Perbarui Wawasan Atlet dan Pelatih, UKM Bela Diri UINSI Bahas Aturan IPSI 2026
Samarinda, LPM Cakrawala — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bela Diri Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda sukses menggelar seminar bertema “Peraturan Pertandingan Terbaru IPSI 2026” pada Minggu (7/6) di Gedung Serbaguna. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai pembaruan peraturan yang ditetapkan oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) kepada atlet, pelatih, dan insan pencak silat.
Ketua Panitia, Muhammad Wahidud Tamam, mengatakan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari program kerja tahunan UKM Bela Diri UINSI Samarinda. Menurutnya, pembaruan aturan pertandingan perlu dipahami oleh seluruh pihak untuk menghindari perbedaan pemahaman saat kompetisi berlangsung.
“Pemahaman terhadap peraturan terbaru sangat penting karena peraturan merupakan dasar pelaksanaan pertandingan. Dengan memahami aturan yang berlaku, atlet dapat bertanding secara efektif dan pelatih bisa memberikan arahan yang tepat,” ujarnya.
Materi seminar disampaikan oleh Siswo, S.Sos., M.Si., seorang praktisi sekaligus wasit-juri pencak silat yang telah aktif sejak tahun 2017. Dalam pemaparannya, Siswo menjelaskan berbagai perubahan pada Peraturan Pertandingan IPSI 2026 yang disertai dengan praktik langsung agar peserta lebih mudah memahami penerapannya di gelanggang.
Seminar ini diikuti sekitar 57-60 peserta dari berbagai perguruan pencak silat, seperti IKSPI Kera Sakti, PSCP, PSHT, dan perguruan lainnya. Selain berasal dari Samarinda, peserta juga datang dari sejumlah daerah, seperti Paser, Tenggarong, dan Kutai Kartanegara.
Salah satu peserta, Sony, mengaku mengikuti seminar tersebut untuk memperbarui pengetahuannya sebagai pelatih pencak silat.
“Sebagai pelatih, saya harus selalu update dan memahami peraturan pertandingan pencak silat yang terbaru,” ungkapnya.
Menurut Tri Agung Wasono, seminar ini memberikan banyak wawasan baru, terutama mengenai etika pesilat di dalam gelanggang serta kaidah pencak silat yang perlu dipahami oleh atlet. Ia menilai pembaruan peraturan IPSI penting untuk menjaga nilai-nilai pencak silat sebagai olahraga yang beretika sekaligus membantu meminimalisasi risiko cedera atlet.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak peserta dari berbagai perguruan pencak silat agar pemahaman mengenai peraturan terbaru dapat tersebar secara lebih luas.
(Xxi/Spt)