LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

MIK Festival 2026 Dorong Mahasiswa Kritis Menyikapi Perang Narasi di Media Sosial

Samarinda, LPM Cakrawala — Dalam rangkaian MIK Festival 2026, Media Indie Kampus (MIK) menggelar seminar bertajuk “Membedah Perilaku Kritis vs Ikut Tren dalam Perang Narasi Jurnalisme, Influencer Politik, dan Pasukan Buzzer” pada Sabtu (13/6) di Gedung G Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Seminar ini bertujuan meningkatkan kesadaran peserta untuk berpikir kritis dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial.

Ketua panitia, Alvinow Rama Yuswan Hadi, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena masih banyak mahasiswa yang dinilai minim literasi dan cenderung apatis terhadap berbagai informasi yang diterima.

“Melalui tema ini kami berharap mahasiswa dapat membangun budaya literasi, berpikir kritis, serta tidak mudah ikut-ikutan terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa seminar ini diharapkan dapat mendorong peserta untuk lebih gemar membaca, memperluas wawasan, serta membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedy Pratama selaku narasumber menyampaikan bahwa masyarakat saat ini tidak dapat terlepas dari arus informasi yang tersebar melalui media sosial. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang berkembang.

“Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari informasi yang beredar di media sosial. Ketika menerima informasi, seseorang dapat memilih untuk bersikap kritis atau sekadar mengikuti arus informasi yang berkembang,” paparnya.

Dedy menjelaskan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah kecenderungan mencari pembenaran atas informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi, bukan mencari kebenaran berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Sering kali seseorang langsung membagikan informasi karena merasa sejalan dengan pandangannya. Padahal, yang perlu dicari adalah kebenarannya,” tegasnya.

Salah satu peserta, Natasya, mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena materi mengenai literasi media dan perang narasi di media sosial belum pernah dipelajarinya secara khusus di sekolah.

“Kami ingin menambah wawasan karena sebelumnya materi seperti ini belum pernah kami pelajari di sekolah,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Bintang menilai materi yang disampaikan mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan generasi muda yang sehari-hari menggunakan media sosial.

“Selain menambah wawasan, kegiatan seperti ini juga bisa menjadi bekal untuk pengembangan diri ke depannya,” katanya.

Setelah mengikuti seminar, keduanya mengaku akan lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi di media sosial.

“Untuk itu, informasi harus diverifikasi melalui berbagai sumber, terutama media yang kredibel dan terverifikasi,” tutup Dedy.

(Hcf/Rvn/Ftr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *