LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Bagai Tembok yang Menutup Telinga dan Tangan yang Berlumur Darah

Samarinda, LPM Cakrawala – Kita seperti benar-benar sedang berteriak di hadapan tembok. Suara lantang yang keluar dari tenggorokan rakyat, mahasiswa, jurnalis, pedagang, hingga pekerja harian, seakan hanya membentur wajah-wajah dingin para tikus negara. Ekspresi mereka kaku, seolah tak pernah mendengar bagaimana rakyat di balik tembok itu hidup dalam kesusahan dan keresahan.

Malam ini kita semua kembali dipaksa menyaksikan tragedi mengenaskan. Mereka yang seharusnya menjaga justru menindas tanpa pandang bulu. Mereka belajar tentang arti kemerdekaan di kelas-kelas formal, tapi di lapangan yang mereka praktikkan hanya penindasan. Pertanyaannya: etiskah ketika satuan yang seharusnya melindungi rakyat malah menghilangkan nyawa rakyatnya sendiri?

Kasus ini bukan kali pertama. Jika kita kilas balik, betapa banyak orang dibunuh hanya karena memperjuangkan keadilan. Munir yang hingga kini kasusnya tak pernah selesai. Seorang siswa SMK di Semarang yang nyawanya terenggut, meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Kanjuruhan, yang masih menjadi bulan-bulanan warga Indonesia— tak pernah selesai, tak pernah usai, tak pernah mengaku salah. Tragedi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Padang, dan daerah lain—semua terulang, semua sama: rakyat jadi korban. Pertanyaannya, apakah kalian tidak pernah belajar dari kesalahan?

Jurnalis, ojol, pedagang, siswa, mahasiswa, warga sipil. Selanjutnya siapa, Pak Pol? Kita yang menulis demi keadilan? Kita yang turun ke jalan menuntut hak? KITA?

Segelintir kata “maaf” tidak akan pernah cukup. Satu nyawa yang melayang tidak bisa ditebus dengan permintaan maaf di depan kamera. Sialan, korban itu hanya berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Orang tuanya menunggu ia pulang dengan wajah sumringah, menanti hasil peluh usahanya di bawah terik matahari. Apakah kelakuan dzalim kalian sebanding dengan kerja kerasnya dalam mencari pundi uang?

Perjuangan rakyat tidak pernah dihargai. Bukannya berdarah, terarah, dan berkiprah—kita justru berdarah, terinjak, dilindas. Sekeras apa pun suara kita, mereka tak pernah mendengar.

Dan ketika dalih “kami hanya menjalankan perintah atasan” keluar dari mulut kalian, maka jelas: kalian tetaplah pembunuh. Kalau atasan menyuruh kalian masuk neraka, apakah kalian juga akan tetap masuk tanpa berpikir? Akal sehat sudah mati, kemanusiaan telah terkubur, dan seragam yang kalian kenakan hanya menjadi bungkus dari kesombongan dan kekerasan.

Barang siapa membunuh satu nyawa, bukan karena nyawa itu membunuh orang lain, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh umat manusia.

Dan ingatlah— kami bukan musuh kalian. Kami hanya manusia biasa yang menuntut keadilan. Tapi ketika suara kami dipukul mundur, ketika kami dipaksa diam, jangan salahkan kami jika suatu saat dinding tembok itu runtuh, bersama seluruh kepalsuan yang kalian bangun di atas darah rakyat.

Cindi Amelia Putri / (Cmt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *