Nonton Bersama dan Diskusi Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”
Samarinda, LPM Cakrawala – Segenap komunitas, mahasiswa, serta masyarakat umum meramaikan pemutaran film dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM GEMPA) UINSI Samarinda di Lapangan Fakultas Syariah (FASYA) pada Kamis, (14/5) malam.
Pesta Babi merupakan film dokumenter investigasi yang dibuat oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale. Film ini berbicara tentang praktik kolonialisme modern, eksploitasi alam, serta dampaknya terhadap masyarakat adat dan lingkungan hidup di Papua.
Tahta Liwa’i Muhammad selaku Ketua Lingkungan Hidup (LH) GEMPA UINSI menyampaikan bahwa kegiatan ini secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, “Kami menyampaikan bagaimana deforestasi yang terjadi di Papua dapat menjadi cerminan terhadap persoalan deforestasi di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan pelaksanaan pemutaran film mendapat respon yang baik oleh mahasiswa dan masyarakat. Selain itu rasa antusias penonton juga melebihi ekspektasinya terbukti dengan banyaknya penonton yang memadati lokasi.
Pemutaran film ini tidak hanya menarik perhatian peserta, tetapi juga memunculkan berbagai emosi selama acara berlangsung dan memberikan pengalaman yang berkesan bagi para penonton.
Alfian selaku mahasiswa menyampaikan film ini membuat perasaannya menjadi campur aduk, “Di balik indahnya Indonesia sebagai negara kepulauan, ternyata Papua menyimpan banyak persoalan yang begitu berdampak bagi masyarakat adat dan hak atas tanah mereka,” ucapnya.
Tanggapan serupa juga disampaikan oleh peserta lainnya, Nufus dan Sarina. Keduanya menilai kegiatan tersebut mampu membangun pola pikir kritis di kalangan mahasiswa, “Film ini berhasil membuka pemikiran saya terhadap persoalan yang ada di Papua dan membuat saya kecewa melihat kondisi pemerintahan saat ini,” ungkap Nufus.
Sementara itu, Sarina berharap masyarakat, khususnya di Kalimantan Timur, memiliki kesadaran terhadap kondisi lingkungan sekitar yang kini banyak berubah akibat aktivitas tambang dan perkebunan sawit. Ia menilai masyarakat perlu lebih kritis serta mendorong gerakan penghijauan di area bekas tambang.
Himawan Aditya selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) UINSI Samarinda juga turut hadir dan memberikan tanggapan terhadap kegiatan nobar yang berlangsung, “Kegiatan ini sangat saya apresiasi karena mampu memantik diskusi dan membuka mata terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Ia juga berharap agar kegiatan serupa dapat diadakan lagi karena mampu memberikan pemahaman kepada khalayak, “Film ini menjadi sarana edukasi bagi kita semua agar lebih memahami dan lebih peka terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia,” ungkapnya.
(Zfq/Mfl/Spt