Januari 20, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Peran Media, Mahasiswa, dan Masyarakat dalam Menanggulangi Penyebaran Berita Hoaks

Lajunya arus perkembangan media sosial masa kini semakin mempermudah ruang gerak informasi di berbagai kalangan masyarakat. Sayangnya, perkembangan media yang ada tidak selajur dengan perkembangan kemampuan masyarakat mencermati informasi, dan susahnya membedakan antara berita yang benar adanya, dengan adanya berita yang seolah-olah dibenarkan.

Hal tersebut tak bisa dipungkiri, seperti banyaknya data yang dikutip melalui laman website LIPUTAN 6. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkoninfo), terhitung sejak 23 Januari hingga 8 Maret, sejauh ini telah ada 177 jenis hoaks yang membahas mengenai virus Covid-19. Jika dilihat dari banyaknya data yang ada, maka saat ini masyarakat bukan hanya menghadapi Virus Covid-19, melainkan masyarakat juga dihadapkan dengan virus penyebaran hoaks yang menyebabkan keresahan di masyarakat.

Terkait hal ini, peran media sangat dibutuhkan dalam menyikapi fenomena yang ada. Menurut Pimpinan Redaksi Berita Kabar Samarinda, Aditya Lesmana mengutarakan betapa perlunya edukasi kepada para pembaca untuk memilih sumber informasi yang terpercaya, “Dalam upaya penyebaran berita hoaks, perlu adanya pemberian edukasi kepada masyarakat agar dapat memilih sumber informasi yang terpercaya serta teruji kredibilitasnya,” ujarnya (14/4). Ia juga menambahkan bahwa sangat diperlukannya wartawan bersertifikat profesional untuk menghadirkan media yang terpercaya, “Bukan hanya itu, para Dewan Pers dan Asosiasi Media juga harus mengadakan uji keprofesionalan wartawan agar dapat menghadirkan media yang bersifat profesional dan tentunya terpercaya,” tambahnya.

Saat ini bukan hanya media saja yang berperan meminimalisir penyebaran berita hoaks di media sosial, melainkan juga harus dibarengi dengan peran mahasiswa serta masyarakat. Mereka juga memiliki pengaruh sangat besar untuk megurangi arus percepatan penyebaran berita hoaks yang ada.

Mahasiswa mampu berperan dengan cara memberi edukasi kepada masyarakat agar tidak dengan mudah mempercayai berita yang ada tanpa mengetahui kebenaran data yang pastikan. Seperti yang telah disampaikan oleh Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (Dema-I), Fatimah mengungkapkan bahwasanya mahasiswa harus teliti dalam mencerna informasi yang ada, “Berita yang beredar jangan langsung diterima secara langsung. Untuk dapat meminimalisir penyebaran berita hoaks, kita juga harus dapat mencari kebenaran data yang ada dengan melihat berita yang sama di laman Web yang berbeda,” tutupnya. (Bnt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *