Januari 19, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Paslon Dema-FTIK lawan Kotak Kosong ?

Samarinda, LPM Cakrawala- Kamis (06/02) di Auditorium Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan (FTIK) Paslon Dewan Eksekutif mahasiswa Fakultas (Dema-F) FTIK melaksanakan debat secara tunggal.

Sebagai Fakultas terbesar dengan mahasiswa terbanyak tentunya ajang debat ini merupakan kesempatan, bagi mahasiswa untuk dapat melihat dan menilai siapa yang pantas memimpin. Pemira tahun ini merupakan pemira pertama yang diadakan untuk Dema Fakultas dan HMJ serta HMPS, pada pemira kali ini Dema-FTIK hanya memiliki satu paslon dengan nomor urut 1 yakni Dimas Anggara sebagai calon ketua dan Irma Rizki Yanti sebagai wakil. Mereka berhadapan dengan kotak kosong karena tidak ada lawan paslon yang mendaftarkan diri di pemira ini.

Debat kandidat dalam artiannya sendiri merupakan proses adu argumentasi antara kedua belah pihak atau lebih dengan tujuan calon pemilih dapat mengetahui visi dan misi, program kerja hingga strategi dari masing-masing kandidat. Namun sangat disayangkan, alih-alih berdebat paslon Dema-FTIK hanya melakukan tanya jawab dengan moderator dan penanya lainnya.

Mahasiswa FTIK Fariska Amelia Chaerani menanggapi bahwa menurutnya dalam pemberitahuan informasi sebaiknya KPUM lebih gencar dalam mencari paslon. “alangkah baiknya KPUM lebih gencar mencari paslon lain dan kalau bisa sih harus ada aturan yang mengharuskan minimal dua paslon agar tidak terjadi kesalahanpahaman atau isu-isu yang tidak jelas.” ucapnya

Ketua KPUM FTIK Andhika Pratama menegaskan tidak masalah jika paslon 1 harus melawan kotak kosong, yang terpenting mahasiswa FTIK mengetahui siapa saja calon pemimpinnya. “Tidak masalah jika hanya satu paslon yang penting disini mahasiswa FTIK tau siapa saja calonnya dan argumentnya mengenai permasalahan yang ada di FTIK ini” ujarnya.

Seperti yang telah diketahui bahwasanya mahasiswa FTIK merupakan mahasiswa terbanyak, dibandingkan fakultas lainnya. Namun, yang mendaftarkan paslon untuk DEMA-FTIK hanya ada satu. Sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan, apakah kurangnya minat mahasiswa atau kurangnya informasi dari KPUM ?.

Andhika Pratama mengungkapkan bahwa pihak KPUM sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menberikan informasi, bahkan membuka 2 kali pendaftaran. “Saya kurang tau mengapa hanya ada satu paslon, namun untuk pemberitahuan dan pendaftaran kami sudah sebarkan melalui Instagram KPUM Institut”. Pungkasnya. (kaa)