Pemira 2025 Sepi, Kampus Sunyi Minim Partisipasi
Samarinda, LPM Cakrawala- Polemik pemilihan raya (Pemira) Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda akhirnya mencapai titik akhir. Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) menutup pemira 2025 dengan rangkaian acara pemungutan dan perhitungan suara yang dilakukan di auditorium 22 Dzulhijjah (28/05).
Namun, pemilihan hari ini meninggalkan tanda tanya yang cukup besar. Pasalnya, jumlah suara yang digunakan hanyalah 217 dari ±5000 mahasiswa aktif di UINSI Samarinda. Angka tersebut membuktikan penurunan jumlah pemilih dari pemira yang telah lalu. Tidak ada setengah dari jumlah mahasiswa aktif tentu saja meninggalkan pertanyaan dan menumbuhkan asumsi-asumsi publik tentang alasan penurunan angka yang sangat signifikan tersebut.
Salah satu pemilih dalam pemira DEMA-U 2025, Adam Hasyim, mengaku cukup menyayangkan turunnya angka pemilih pada pemira tahun ini. Menurutnya, menurunnya minat dan semangat mahasiswa bergabung dalam organisasi mengambil andil besar dalam penurunan angka pemilih ini. Pemungutan suara yang dilakukan di jam perkuliahan menurutnya juga menjadi faktor kurangnya mahasiswa menggunakan hak pilihnya. “Faktor diundurnya pemira, yang seharusnya dilakukan serentak dengan pemilihan Dema Fakultas, HMJ, dan HMPS, tetapi karna ada sedikit permasalahan jadi diundur, itu juga mempengaruhi minat mahasiswa pada pemira kali ini,” tuturnya.
Sebagian mahasiswa juga mengaku bahwa tidak mengetahui adanya pemungutan suara hari ini. Tidak sedikit yang baru mengetahui informasi tentang pemungutan suara ini di pagi hari dilaksanakannya pemira. Meskipun timeline berjalannya pemira sudah diunggah di Instagram KPUM-U tetapi pada nyatanya penyebaran informasi masih sangat kurang. Muhammad Agil Hermawan, mengaku masih banyak runtutan pelaksanaan pemira yang tidak diketahui khalayak ramai. Ia juga mengaku di hari pelaksanaan debat paslon, ia sama sekali tidak mengetahui adanya acara tersebut.
Kurangnya partisipasi dari Ormawa juga menjadi alasan kurang meratanya penyebaran informasi pemira ini. Tidak semua Dema Fakultas, HMPS, dan HMJ terlibat dalam penyebaran informasi ini. Bahkan tidak semua ketua dan wakil ketua Dema Fakultas menggunakan suaranya dalam pemira.
Agil menyatakan bahwa kurangnya partisipasi Ormawa dalam penyebaran informasi juga menjadi alasan yang cukup fatal. Mahasiswa semester empat dan lima yang banyak mengikuti perjalanan pemira saja tidak mengetahui informasi terkait pemira, apalagi mahasiswa semester baru yang seharusnya masih dibimbing dan diayomi. “Bahkan Presma sebelumnya yang masih menjabat tidak mendampingi proses perhitungan suara.” Tambahnya.
Lalu, Bondan Tri Atmaja selaku mahasiswa UINSI juga mengutarakan pendapatnya bahwa minimnya pemilih di tahun ini memang benar disebabkan oleh krisis mahasiswa yang mulai apatis. “Periode kerja penyelenggara yang terlalu singkat juga menjadi sebuah masalah untuk Pemira. Masa ini lebih singkat dibandingkan yang ada di TAP Pemira.” Ucap Bondan.
Di sisi lain, sebagai ketua KPUM-U, Muhammad Rizal Nur berpendapat bahwa penyebaran informasi terkait pemungutan suara sangat minim sekali. arena hanya terbatas melalui story instagram KPUM-U dan undangan melalui kosma UINSI. “Kami, KPUM-U merasa bahwa sosialisasi yang kami lakukan kurang efektif. Lalu, mahasiswa sekarang juga sangat apatis dan tidak memiliki ketertarikan terhadap isu organisasi mahasiswa. Mereka merasa bahwa Pemira tidak terlalu berdampak langsung terhadap kehidupan kampus mereka,” pungkas Rizal.
“Terlebih lagi, jadwal kuliah dan aktivitas pribadi yang padat membuat sebagian besar memilih untuk tidak melibatkan diri. Jadi, ini bukan sekadar soal minat, tapi juga tentang bagaimana informasi disampaikan dan sejauh mana mahasiswa merasa bahwa suara mereka benar-benar punya arti,” tutupnya.
Rangkaian dinamika politik kampus ini akhirnya memberikan hasil yang tuntas. Meskipun melewati berbagai hambatan, mulai hari ini, organisasi UINSI telah disepakati untuk dipimpin oleh pemimpin baru yang digadang-gadang memiliki track record baik dan ciamik di kalangan Ormawa.
(Cmt, Swz)