Januari 20, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Krisis Kebersihan, Krisis Kepedulian : Moral Organisasi yang Hilang

Sederet sekretariat Ormawa (Organisasi Mahasiswa) UINSI Samarinda, tumpukan sampah mulai menua bersama panas dan waktu. Sayap kanan dan sayap kiri auditorium berderet ruang-ruang kreativitas. Di sanalah aktivitas organisasi mahasiswa hidup setiap hari untuk rapat, diskusi, pelatihan, dan segala rupa program yang katanya demi kemajuan kampus dan internalnya masing-masing. Namun di tengah semangat itu, ada sesuatu yang diam tapi menyindir: gunungan sampah yang terus tumbuh di depan sekretariat.

Bukan lagi sekadar plastik, kardus, atau bungkus kopi sachet, tapi simbol dari sesuatu yang lebih busuk: tanggung jawab yang ditinggalkan. Sejak kebijakan efisiensi diberlakukan dan petugas kebersihan tak lagi rutin menyapu halaman depan sekretariat, sampah itu menua.

Bukan karena tak ada yang bisa membersihkan, tapi karena tak ada merasa keharusan.

Mahasiswa sibuk berbicara tentang ‘pengabdian masyarakat’, tapi lupa mengabdi pada lingkungan sendiri. Sibuk membahas ‘kepemimpinan’, tapi tak sanggup memimpin diri untuk memungut plastik di depan pintu sekretariat. Berani rapat berjam-jam membahas program kerja, tapi menunduk pura-pura sibuk saat lewat di depan sampah yang bercecer tanpa arah.

Kampus seharusnya menjadi tempat untuk menumbuhkan kesadaran, tapi sekarang sudah menjelma menjadi taman ego. Setiap organisasi sibuk dengan poster, proposal, dan pencitraan. Ironinya, semua Ormawa tahu soal tumpukan itu, tapi menunggu pihak lain yang bergerak lebih dulu. Seolah sapu adalah simbol kehinaan, bukan tanda kepedulian.

Padahal kebersihan bukan sekadar urusan petugas, tapi cermin moral komunitas akademik. Kampus Islam seperti UINSI semestinya tidak hanya mengajarkan wudhu yang suci, tapi juga kesadaran sosial yang bersih. Sebab apa artinya kuliah tentang etika Islam, jika halaman sekretariat sendiri menjadi tempat dosa kolektif karena kelalaian?

Tak hanya urusan aroma tak sedap, ia adalah potret dari struktur mental Ormawa yang menua: sibuk bicara visi, tapi lupa aksi. Sibuk mengutuk pemerintah yang abai, padahal dirinya sendiri abai pada lingkungan dua meter dari tempat duduknya.

UINSI bukan pasar malam, dan sekretariat bukan tempat pembuangan residu semata. Jika setiap seminar meninggalkan plastik, dan setiap rapat meninggalkan gelas kotor, maka idealisme pun ikut tertimbun— pelan-pelan, tanpa suara, tanpa kata.

Masalahnya bukan pada siapa yang mengangkut sampah, tetapi pada siapa yang peduli. Krisis kita bukan kekurangan dana, tapi kekurangan rasa memiliki. Bukan krisis kebersihan, tapi krisis mental: mental menunggu, mental menunda, mental melempar tanggung jawab.

Pada akhirnya, yang busuk bukan hanya sisa makanan, tapi juga mentalitas mahasiswa yang terlalu sibuk berslogan namun terlalu malas untuk berbenah.

Atau barangkali, gunungan sampah itu memang pantas tetap di sana, sebagai cermin yang memantulkan wajah asli Ormawa: berwibawa dalam rapat, tapi lumpuh di lapangan? Berani bicara perubahan, tapi takut kotor oleh tindakan.

Sebab kampus yang bersih bukan dicapai oleh pidato, tapi oleh tangan-tangan yang mau bekerja. Dan Ormawa yang berharga bukan yang punya banyak spanduk, tapi yang tahu cara memungut sampah tanpa perlu disuruh.

(Swz, Cmt, Mfl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *