Januari 20, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Coretan Bukan Sekedar Tinta: Ironi Rumah Para Pendidik

Pasca demo “Rumah Hantu” Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) tahun lalu, coretan-coretan tak layak baca masih menghiasi dinding seolah menjadi mural permanen dari kegagalan bersama. Dinding yang kotor kini seperti cermin besar yang menampakkan wajah asli kampus. Bukan kampus Islam yang beradab, tapi kampus yang kehilangan rasa malu.

Ironis, karena vandalisme itu bukan sekadar goresan tinta, melainkan simbol dua hal yang sama buruknya: mahasiswa yang kehilangan adab, dan fakultas yang kehilangan kepedulian. Dua-duanya sibuk menunjuk, tapi tak satu pun mau bercermin.

Lantai tiga Tarbiyah kini lebih mirip bangunan yang menunggu ajal. Sebagian ruang masih dipakai untuk belajar, sementara sisanya menyerupai gudang sisa peradaban: kursi patah, meja hilang, kipas macet, dan lantai retak. Beginikah wujud kampus yang katanya mencetak calon pendidik? Ironi yang terlalu telanjang untuk ditutupi jargon moral.

Kabar bahwa beberapa kelas mulai dibersihkan memang sempat terdengar, tapi pembersihan apa yang dimaksud? Debu di lantai mungkin hilang, tapi debu di nurani masih tebal. Coretan di dinding tetap menempel, seperti bukti bahwa di tempat yang seharusnya mengajarkan adab, justru adab itu sendiri yang mati duluan.

Apakah tindakan mencoret-coret tembok bisa dibenarkan dengan dalih kecewa pada pimpinan fakultas? Tidak. Tapi apakah diamnya fakultas terhadap kondisi kampus yang mengenaskan ini juga bisa dibenarkan? Sama sekali tidak. Yang satu bertindak tanpa pikir, yang lain berpikir tanpa bertindak. Hasilnya? Sebuah kampus yang pandai berbicara tentang nilai Islam, tapi gagal menerapkannya di hal sesederhana menjaga tembok tetap bersih.

Fakultas Tarbiyah seharusnya menjadi contoh, tapi yang terlihat malah contoh kebingungan. Sementara mahasiswa yang berteriak soal perubahan justru yang meninggalkan jejak ketidaktertiban. Apa bedanya yang berkuasa tapi lalai dengan yang lantang tapi tak beradab? Tidak banyak. Keduanya sama-sama penyebab rusaknya wajah kampus.

Sudah cukup menyedihkan melihat dinding-dinding penuh cacat, jangan sampai nurani penghuninya ikut retak. Kampus Islam bukan hanya tentang nama dan seragam, tapi tentang perilaku. Dan ketika perilaku sudah kehilangan arah, bahkan tembok pun tahu, siapa sebenarnya yang berhantu di dalam Tarbiyah.

(Cmt, Elf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *