Membangun Jejak, Bukan Tembok: Pentingnya Untuk Menerima Kritik
Dalam lingkup sosial, kita sering dihadapi dengan individu yang tidak mampu menangkap kritikan dengan baik. Fenomena yang biasa terjadi kali ini dapat digambarkan seperti “Membangun tembok di sekeliling diri”. Artinya, ketika seseorang dihadapkan pada kritik, mereka cenderung menggambarkan sikap defensif dan menolak untuk menerima pandangan dari pihak lain, mengabaikan masukan yang diberikan, seolah menganggap tidak terjadi apa-apa diluar tembok yang dibangun.
Realitanya ini bukan seperti pada cerita ‘Attack on Titan’, disaat sebuah kota dikelilingi oleh tembok-tembok besar yang menciptakan sebuah batasan sehingga dapat menjadi penghalang bagi mereka untuk menerima sebuah pandangan yang berharga, kritik berharga dalam sebuah tanda mengenali kelemahan maupun kelebihan mereka. Selama dinding terbangun kokoh, mereka akan terjebak dalam ketidakpahaman dan keterlambatan dalam berbagai hal.
Mereka membangun sebuah pertahanan dan merasa aman dari serangan kritik, namun mereka tidak sadar di waktu yang sama pula mereka menutup diri terhadap kesempatan untuk belajar serta berkembang dari masukan yang diberikan dari orang lain. Sudah terlihat jelas, tergambarkan jelas bahwa sikap ini sangat merugikan. Baik individu maupun bagi lingkungan disekitarnya.
Ketidakmampuan bukanlah kelebihan— justru akan merambat pada lambatnya pertumbuhan pribadi dan profesional. Kecacatan ini akan tercipta oleh dirinya sendiri. Suasana terasa tidak sehat, apalagi pada hubungan interpersonal.
Ketika seseorang benar-benar tidak mendengarkan kritik, muncullah ketegangan dan konflik sehingga mengganggu orang-orang disekitar mereka pasti merasa frustasi dan segan untuk memberikan masukan kedepannya, yang pada akhirnya akan semakin memperburuk situasi.
Terlepas dari semua itu, sudah jelas betapa pentingnya membuka diri menerima masukan terhadap kritik, serta memandangnya sebagai kesempatan berharga dalam belajar dan berkembang. Menerima kritik dengan baik mencerminkan sebuah kedewasaan dalam mengatur emosi, menunjukan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dunia terus berubah, kemampuan untuk sadar untuk mendengarkan dan merenungkan masukan dari orang lain adalah keterampilan yang sangat berharga. Kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat menjadi air yang memantulkan aspek-aspek pada diri kita yang mungkin tidak kita sadari.
Berproses memang tidak mudah, sebagaimana halnya menerima kritik. kritik sering kali dapat terasa menyakitkan dan menantang ego kita. Namun, jika kita mampu melampaui rasa sakit tersebut, kita akan menyadari bahwa setiap masukan adalah peluang berharga untuk bisa dirasakan pada saat-saat berharga bersamaan dengan pertumbuhan dan pengembangan diri. Pada akhirnya kita bisa menangkap bahwa setiap masukan merupakan kesempatan untuk bertumbuh.
Mari berusaha untuk tidak ‘menarik diri ke dalam tembok’ terhadap kritik. Sebaliknya, dengarkanlah dengan baik setiap masukan yang diberikan. Hal ini tidak hanya menguntungkan diri sendiri untuk bertumbuh, ada hasil plus yang bisa diraih seperti membuka gerbang lebih lebar dalam mendukung kegiatan berdialog dengan terbuka sambil bertukar ide. Sikap yang seperti ini akan membawa kita lebih jauh menuju pencapaian yang lebih besar dimasa depan pada kehidupan pribadi dan profesional.
Dengan menerima kritik sebagai bagian dari perjalanan kita, kita akan semakin mendekati versi terbaik dari kita yang penuh potensi dan kemampuan untuk mencapai impian kita.
(Ars) / (Cmt)