Satu Paslon, Satu Suara, Satu Masalah: Demokrasi Kampus Kehilangan Arah
Pemilihan Raya Universitas (Pemira-U) yang seharusnya menjadi sebuah momentum sakral dalam demokrasi kampus masih menyimpan tanda tanya besar. Pemira tak hanya dilansir sebagai ajang pemilihan pemimpin organisasi mahasiswa tingkat universitas, tetapi juga sebagai sebuah ruang kompetisi yang dilandasi oleh ideologi, gagasan, integritas, dan efektivitas antar calon pemimpin lewat visi misi yang sudah dibuat.
Namun, bagaimana jika hanya ada satu pasangan calon yang berani maju untuk menyuarakan idealismenya? Apakah persaingan tidak lagi terlaksana? Apakah hal ini masih layak disebut sebagai “pemilihan”?
Faktanya, fenomena adanya satu pasangan calon ini sudah umum diluar sana, bahkan di kampus hijau kita sendiri. Hal ini memang sah sah saja dan terlihat legal juga ‘kok. Tapi jika ditelaah lebih lanjut, esensi utama pemilihan raya telah hilang. Pemira tanpa kompetisi antar paslon adalah demokrasi hampa, bagaikan jantung tanpa denyut. Warga kampus tidak lagi dihadapkan oleh dua hingga tiga pilihan, melainkan hanya diberikan satu yang tak pasti benar.
Itu bukan demokrasi, tapi formalitas.
Tak adanya kompetisi akan merubah esensi Pemira menjadi seremoni administratif. Maksudnya, Pemira akan kehilangan kualitasnya. Ketika kompetisi tidak hadir sebagai sifat pemilihan raya, visi-misi tidak akan diperdebatkan dengan siapapun. Debat yang akan terjadi hanya akan terlihat seperti sesi tanya jawab.
Paslon seakan berdebat dengan tembok. Tak adanya lawan akan menimbulkan stigma bahwa mahasiswa mengalami penurunan kualitas. Mahasiswa tidak berpikir kritis terhadap arah gerak kampus.
Mengapa hanya satu paslon?
Tak adakah mahasiswa yang memiliki jiwa kepemimpinan yang absolut untuk ‘melek’ sebagai perwakilan eksekutif mahasiswa dengan skala besar? Apakah tak ada mahasiswa yang mampu dan berani untuk memperlihatkan taringnya? Ataukah satu paslon ini memiliki sesuatu yang membuat orang lain mundur dan minder?
Dilansir pula dari kejadian tahun kemarin, UINSI telah kehilangan peran Presiden Mahasiswa sebagai jembatan suara. Menghilangnya peran Presiden Mahasiswa Dema UINSI dalam mempengaruhi mahasiswa menjadi lampu merah untuk politik kampus. Sejak awal untuk naik menjadi pemimpin, apa tujuannya?
Apakah benar, mahasiswa generasi sekarang mulai apatis dan menjauh dari organisasi kampus? Idealisme dan semangat advokasi mahasiswa telah digantikan oleh persaingan ketat akademik dan pragmatisme hidup, kah?
Kondisi ini perlu menjadi alarm. Minimnya regenerasi yang dipicu oleh ketidakpuasan mahasiswa terhadap organisasi yang kerap diisi oleh ‘orang lama’. Kampus bukan hanya tempat mencari teori, tapi harus disinyalir sebagai laboratorium demokrasi. Jika Pemira saja sudah tidak kompetitif, bagaimana bisa mahasiswa diharapkan menjadi agent of change di masa mendatang?
Organisasi harus transparan dan inklusif. Demokrasi tanpa pilihan bukanlah demokrasi. Dan Pemira tanpa kompetisi hanyalah rutinitas tahunan yang kehilangan makna. UINSI, kita tidak boleh diam.
(Cmt)