Demokrasi yang terasingkan : Rintihan Suara Kampus Hijau
Satu kata dari skema yang terjadi di lingkungan Kampus hijau dalam tatanan demokrasi dan kebebasan berpendapat— Miris.
Mengingat dari tahun ke tahun, masyarakat kampus menunjukkan sikap yang terkesan apatis. Berbagai isu regional dan isu nasional silih berganti, namun tak juga menyulut semangat pergerakan mahasiswa. Hingga pada akhirnya mereka di sebut-sebut sebagai ‘Kultur yang Terasingkan’.
Tak hanya dalam kondisi tersebut, terkadang lingkungan yang seharusnya menunjang dan mendukung aspirasi justru membungkam dan menutupi kegiatan interaktif yang disuguhkan oleh kawan-kawan.
’Kultur’ yang di bangun di lingkup kampus seharusnya menjadi perhatian bagi semua masyarakat kampus tersebut. Membangun kualitas demokrasi yang baik tidak hanya melalui skema Akreditasi unggul, namun melihat secara kolektif bagaimana demokrasi kampus terjamin dan dijamin berjalan dengan seharusnya.
Masalah yang menuai pro dan kontra hari ini ialah bagaimana mahasiswa menanggapi persoalan dari isu regional maupun nasional. Rentetan permasalahan negara yang dapat memantik semangat mahasiswa, namun sejak hari ini, tanggapan siswa kian menyempit. Mulai dari isu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang melilit kependidikan, hingga RUU TNI.
Efek dan dampak yang terjadi juga akibat isu nasional tersebut seharusnya menjadi keresahan yang dialami oleh mahasiswa, dialog dan diskusi publik akan tumbuh aktif seiring berjalannya waktu. Sebagai kontrol sosial seharusnya dapat memberikan pandangan dan argumentasi secara sistematis mengenai isu-isu tersebut. Namun hari ini menjadi saksi bagaimana perjalanan kampus hijau dalam membangun hal interaktif terkait sistem demokrasi mahasiswa.
Beberapa hal yang menjadi persoalan lingkup regional yang sering kali dikeluhkan oleh kalangan mahasiswa ‘interaktif’ ialah lingkungan tempat mereka berperang, narasi sangat tidak mendukung dan membangun demokrasi. Maraknya mahasiswa yang ‘diam’ memberi kesan bahwa kawan-kawan yang aktif hanya ‘fomo’ terhadap media sosial, terlihat cari panggung dan sebagainya.
Kampus yang terakreditasi ini justru menuai banyak kritikan, selain sarana dan prasarana, juga kurang memberi dukungan terhadap mahasiswanya yang menjadi tonggak utama dalam demokrasi kampus. Namun kendati demikian, lingkungan tersebut memberi kesan dan respon yang kurang baik, dikuatkan dengan Kegiatan Seminar Interaktif yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah ( DEMA Fasya ) dalam hal ini tidak adanya tanggapan dan respon yang baik di tengah sinergitas dalam membangun citra Fakultas itu sendiri (28/04), dikatakan juga bahwa narasumber yang diundang merupakan pihak Kedinasan terkait sesuai dengan Tema kegiatan tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa banyak faktor yang dapat memberikan rintihan-rintihan yang terasingkan ini memiliki potensi yang terpendam dan tenggelam menjadikan kampus hijau ini di tuai banyak julukan.
Fungsi pers menjadi sangat krusial di tengah-tengah kesenjangan intelektual seperti ini, sebagai pilar ke 4 demokrasi bangsa, ‘pun sebagai penggerak tumbuhnya diskusi dan dialog publik, menjadikan pers sebagai suatu potensi, ketajaman berlogika dan berdialektika. Lingkungan pun menjadi pengaruh utama dalam menumbuhkan kesadaran. Diharapkan pejabat kampus dapat memahami kebutuhan mahasiswanya, juga demikian dengan mahasiswanya yang memiliki problem individualnya, lebih memilih tertutup dan diam, kesadaran akan isu tidak ditumbuhkan. Miris.
Mto (Cmt)