Januari 19, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Sistem Tata Kelola Sampah UINSI Masih Labil, Pra-Pasca Sterilisasi Lingkungan TPS

Samarinda, LPM Cakrawala – Sudah kurang lebih 2 tahun lamanya pengelolaan sampah kian menuai kritikan dan kecaman dari para mahasiswa. Sistem tata kelola sampah yang abu-abu menciptakan penumpukan sampah di berbagai tempat yang tidak semestinya, khususnya di sayap kanan Auditorium 22 Dzulhijjah.

Sampah hilang-datang sejak 2023 hingga terakhir kali, agenda Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kukar menyambangi Kampus Peradaban Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Dan sejak 2023 hingga sekarang-pun, persoalan sampah dan tata kelolanya masih sangat buruk, terlihat bahwa tidak ada kebijakan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Pimpinan Kampus.

Diketahui sebelumnya bahwa Tempat Pembuangan Sampah (TPS) UINSI terletak di depan Asrama Putri (Aspuri), hal ini diperkuat dengan adanya bak sampah besar warna kuning. Beberapa hal tentang alokasi dan penempatan pembuangan sampah yang strategis menjadi keresahan di kalangan mahasiswa.

Pasalnya TPS yang berdekatan dengan letak Asrama kerap mengganggu aktivitas para santri aspuri, “bau tak sedap, kita tidak bisa menghirup udara segar kalau duduk di depan asrama. Kalau tempat sampahnya penuh, bisa jatuh ke selokan, mahasantri asrama juga yang membersihkannya,” ucap Dayena selaku ketua asrama putri.

Tak hanya persoalan penempatan sampah yang strategis, masih banyak juga tempat-tempat pembuangan sampah yang tidak resmi dari kebijakan pimpinan rektorat, seperti TPS yang terletak di samping Auditorium 22 Dzulhijjah.

Seolah menjawab keresahan mahasiswa di mana letak TPS, Senin, (17/2) Rektorat Bagian Umum bersama Humas UINSI mempublikasikan TPS baru yang berlokasi di belakang Gardu PLN.

— Tumpukan Sampah di Serambi Kanan Auditorium 22 Dzulhijjah —

Akhir tahun 2024 banyak sekali kegiatan yang diadakan di Auditorium, baik dari mahasiswa maupun Rektorat. Tidak hanya itu, pihak luar UINSI pun seringkali meminjam Auditorium untuk melakukan kegiatan. Hal ini merupakan salah satu faktor mengapa terdapat tumpukan sampah di sekitar sayap kanan Auditorium (seberang pintu keluar arah kiri panggung jika dari dalam), bahkan tempat tersebut tak tanggung-tanggung dianggap sebagai TPS.

Seringnya ditemukan pembuangan dan penempatan sampah secara ilegal di samping auditorium, menimbulkan banyak keresahan para penghuni Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UINSI yang berada di serambi kanan Auditorium.

Manda selaku pihak yang dirugikan menyingkapkan bahwa tidak seharusnya para penyelenggara acara membuang sampah di sana, menjadikan halaman UKM bergunung sampah. “Bau busuk menyengat dan pemandangan yang tidak elok. Sudah pasti jadi sarang penyakit sebab banyak lalat dan serangga lainnya yang hinggap disana,” Cetusnya.

M. Tahir selaku Wakil Rektor III memberikan tanggapannya dengan tegas saat rapat Ormawa Kampus, (07/11) lalu. Tahir mengungkapkan bahwa di samping Auditorium bukanlah tempat yang legal, “Pembuangan sampah di samping Audit itu sangat tidak etis dan tidak wajar, itu tempat yang ilegal untuk membuang sampah,” tegasnya.

Pernyataan inilah yang ini menjadi pegangan seluruh pihak bahwa TPS yang ada di sayap kanan Auditorium 22 Dzulhijjah bukan TPS yang dianjurkan oleh Rektorat.

Setelah diadakannya asesmen lapangan akreditasi kampus pada (09/11) lalu, UINSI terverifikasi melambungkan nama baik Universitas menjadi Unggul. Namun hal ini justru menunjukkan ketidakseriusan pihak rektorat dalam menyelesaikan persoalan sampah di kampus hijau. Statement tegas yang disampaikan saat Rapat Ormawa Kampus 2024 lalu ternyata tidak memberikan efek dan tindakan yang membantu.

Disinyalir terdapat beberapa kendala seperti kurangnya personil dan biaya pengangkutan sampah yang membuat sampah mulai tidak di angkut dan di biarkan hingga berbulan-bulan.

— Gerakan UINSI Steril Sampah dan kembalinya tumpukan sampah—

Akibat persoalan sampah yang kian hari semakin meresahkan, memicu beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk melakukan aksi nyata berupa gerakan peduli lingkungan bertajuk ‘UINSI Steril Sampah’ pada Selasa, (25/2).

Dalam kegiatan inilah akhirnya tumpukan sampah yang tersebar di lingkungan kampus dapat dibersihkan secara seksama, sampah-sampah yang tercecer dipindahkan ke tempat yang seharusnya, yaitu di belakang Gardu PLN.

“Sampah sendiri sudah banyak menumpuk dan baunya juga bermacam-macam. Yang membersihkan sampah hanya 5 sampai 7 orang saja, padahal sampah itu dihasilkan dari ratusan orang di dalam yang tak bertanggung jawab,” ungkap Rifa selaku Mahasiswa yang terlibat.

Setelah melakukan sterilisasi lahan, sampah kembali menumpuk di sayap kanan Auditorium pada (26/2) yang memicu kekesalan para pihak mahasiswa yang sebelumnya membersihkan sampah di lokasi tersebut.

Adel selaku pihak yang menyaksikan langsung sampah yang dibuang di tempat yang telah di segel, menyatakan kekesalannya dan kekecewaannya kepada penyelenggara acara. “Saya kecewa terhadap jajaran rektorat, saya adalah orang yang ikut serta dalam pensterilan sampah, besoknya sudah ada lagi plastik sampah yang tergeletak di tempat sampah sebelumnya,” pungkasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak penyelenggara acara tidak mengindahkan tanda peringatan yang telah dipasang oleh Ormawa sekitaran Auditorium, “sampah kalian adalah tanggung jawab kalian sebagai pendiri acara, jangan main buang sembarangan aja,” tambahnya.

Dengan ditemukannya kembali sampah di sekitar patok yang bertuliskan “Katanya Sarjana tapi otaknya Mlmana, di sini bukan tempat sampah”, terpantau bahwa yang membuang adalah penyelenggara kegiatan Kunjungan Madrasah Aliyah Negeri 2 Kukar, lalu yang diselenggarakan oleh pihak Umum Akademik, Rabu (26/2).

— Upaya Pihak Rektorat Menangani Permasalahan Pengelolaan Sampah—

Farihin selaku Bagian Umum Rektorat menyatakan bahwa 2025 ini anggaran untuk pemeliharaan lingkungan dan pengelolaan sampah sedang terdampak program efisiensi anggaran dari pemerintah, “sampai saat ini pemeliharaan lumpuh karna semua anggaran habis terpangkas dari adanya efisiensi dari pemerintah dan otomatis berdampak pada tata kelola sampah dan sampai saat ini kita masih kesulitan mendapatkan biaya pemeliharaan, jika ingin tahu lebih jauh silahkan koordinasi di tingkat pimpinan,” ujarnya.

Nurdin selaku penanggung jawab gedung Auditorium 22 Dzulhijjah menyatakan bahwa akan menyampaikan pada pihak pimpinan agar setiap kegiatan yang ada harus membuang sampah pada tempatnya, “saya akan menghimbau siapapun yang mengadakan agenda di gedung agar sampah dibawa dan dibuang di belakang gardu PLN,” tutupnya.

TPS yang baru telah ditetapkan. Perlu adanya sosialisasi kepada seluruh masyarakat UINSI untuk mengetahui di mana letak TPS yang resmi dan pembahasan lebih lanjut mengenai penentuan alternatif TPS resmi lainnya.

(Mto) / (Cmt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *