Ketidakpastian Anggaran Menuju Pemira 2025
Samarinda, LPM Cakrawala – Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2025 yang mengatur efisiensi anggaran di seluruh lembaga pendidikan mulai memberikan dampak signifikan terhadap kegiatan demokrasi kampus. Pemilihan Raya (Pemira) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI) kini menghadapi tantangan serius akibat pemotongan anggaran yang drastis.
Awalnya, UINSI Samarinda memiliki anggaran sekitar Rp 56 juta untuk Pemira. Namun, setelah pemangkasan maksimal 20% pada sektor pendidikan, alokasi anggaran kampus turun drastis dari Rp 92 miliar menjadi hanya Rp 4 miliar. Hal ini menyebabkan kebutuhan Pemira, khususnya alat tulis kantor (ATK), mengalami pengurangan hingga 93%.
Ketua Senat Mahasiswa (Sema) UINSI, Tristan, berupaya mengajukan permohonan agar anggaran Pemira dimasukkan ke dalam kategori prioritas. “Saya sudah meminta agar Pemira setidaknya mendapat anggaran Rp 20 juta. Itu cukup untuk menjalankan Pemira dengan layak,” ujarnya.
Namun, tidak hanya efisiensi anggaran pusat yang menjadi kendala. Gejolak juga muncul akibat pernyataan Badan Pengawas Pemilu Mahasiswa (Banwasra) yang menyebutkan bahwa tidak ada dana sama sekali untuk Pemira. Sulaiman, Ketua Banwasra, mengaku bahwa pernyataan tersebut merupakan hasil dari pertemuan dengan rektor. Di sisi lain, pihak dekanat menyatakan masih ada alokasi dana. Ketidakjelasan informasi ini menimbulkan kebingungan dan ketegangan di antara Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) universitas dan fakultas.
Tristan menegaskan bahwa ia belum mengetahui detail pernyataan tersebut, namun ia siap membatalkan Pemira jika tidak ada kejelasan anggaran. “Kalau memang dari rektorat tidak bisa memastikan terkait anggaran itu, saya mendesak untuk tidak memperpanjang Pemira. Dalam artian, saya bisa batalkan sebagai bentuk keseriusan kita dalam menjalankan demokrasi kampus,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa akan segera mengadakan forum bersama seluruh Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di UINSI Samarinda untuk membahas anggaran ini. “Saya mengusahakan kepastian di Minggu ini. Insya Allah, lusa akan diadakan forum untuk memperjelas dan meminta keputusan dari pimpinan rektorat supaya kita tidak bingung dalam menjalankan Pemira ini,” jelasnya.
Semakin mendekati hari pelaksanaan Pemira, pihak Sema berencana mengadakan forum bersama pihak rektorat, bagian keuangan, serta seluruh Ormawa untuk meminta keputusan final terkait anggaran Pemira. Forum tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan dan menghindari ketidakpastian yang dapat mengganggu jalannya pesta demokrasi mahasiswa.
(Swz, Han) / (Cmt)