Januari 18, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

[OPINI] Paslon Tunggal Hingga Golput Meningkat, Bukti Demokrasi Kampus Cacat?

Oleh: Dinda Mei Sarah

Pemira atau Pemilihan Umum Raya merupakan suatu ajang “Pesta Demokrasi” yang diselenggarakan di berbagai perguruan tinggi, termasuk di UINSI Samarinda. Pada hari Senin (21/02), Pemira telah dilaksanakan dengan Paslon tunggal sebanyak 15 dari total keseluruhan 19 Paslon. Pelaksanaan Pemira kali ini tak seperti pesta demokrasi pada umumnya yang penuh dengan adu ide dan gagasan, serta pesta yang dikenal semarak dan menggembirakan. Pemira lebih terlihat seperti ajang formalitas tahunan untuk menggugurkan kewajiban, setelah melihat banyaknya calon tunggal dan angka golput yang melonjak tinggi. Ada apa dengan Demokrasi Kampus akhir-akhir ini?

Pemira merupakan gambaran kecil dari sistem demokrasi yang ada di Indonesia, tetapi melihat situasi di atas maka bisa dikatakan
perayaan demokrasi di kampus nampaknya telah kehilangan warnanya dengan tidak adanya semangat dalam menyambut hari pemilihan. Beberapa mahasiswa bahkan mengatakan mereka menyoblos karena “disuruh nyoblos”, “kebetulan masih di kampus jadi nyoblos”. Pernyataan ini sangat mengganjal di telinga karena dengan tidak adanya minat memilih membuktikan bahwa kita sebagai mahasiswa terlalu apatis dalam demokrasi. Ditambah lagi edukasi terkait seberapa penting pemira ini masih minim dilakukan, hingga banyak mahasiswa yang beralasan tidak memilih dikarenakan masih belum terlalu paham akan Pemira. Akibat dari permasalahan-permasalahan dalam memilih di atas, berdampak pada jumlah golput yang meningkat dari tahun lalu. Pada Tahun 2021, dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 6.429 hanya 1.757 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya, sedangkan 4.672 mahasiswa lainnya dinyatakan golput dengan beragam alasan. Dan tahun ini, lebih dari 60% mahasiswa dinyatakan golput dengan total 4.205 dari jumlah DPT 6.475, jadi hanya 2.230 mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya tahun ini.

Wibawa Pemira sebagai ajang regenerasi kepemimpinan mulai redup. Euphoria dalam pemilihan yang harusnya terasa menjadi ilusi belaka, hingga muncul opini dari salah seorang mahasiswa Hukum Tata Negara, bahwasanya mahasiswa tidak lagi tertarik terhadap Pemira. Tidak bisa disalahkan jika ada yang beranggapan bahwa Pemira kali ini kurang menarik, pasalnya sejak KPUM-U mengadakan debat kandidat calon ketua dan wakil ketua Dema-U di Gedung Serbaguna kampus 2 UINSI Samarinda, Jumat (18/2) lalu, kita menyaksikan sendiri bahwa yang terjadi bukanlah debat sesungguhnya, melainkan hanya penyampaian visi misi dan tanya jawab saja. Sebagaimana yang kita tahu, wajah debat sesungguhnya adalah ketika tercipta adu argumen antara satu calon dengan calon lainnya serta adanya pro dan kontra di dalamnya. Sedangkan yang kita lihat hanyalah sebatas panggung aksi untuk menggaet hati para calon pemilih. Lebih tajam lagi, ada yang berpendapat bahwa mahasiswa yang memilih golput kemungkinan karena merasa tidak ada yang pantas untuk dipilih karena kurangnya kepercayaan kepada para Paslon.

Sampai sekarang belum ada aksi nyata untuk memperbaiki bagaimana sistem pemira ini harus berjalan untuk menciptakan suasana yang kondusif dan partisipatif. Akan seperti apa masa depan kampus jika demokrasi kian melemah bahkan hilang gairah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *