Januari 19, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

[ARTIKEL]Memupuk Kerukunan dalam Bingkai Toleransi Beragama

Oleh: KKN-DR 29

Indonesia merupakan Negara besar yang didalamnya terdapat beberapa agama, diantaranya ada agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan berbagai macam keyakinan lokal lainya. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan syarat mutlak yang bisa menjamin stabilitas sosial dari pemaksaan ideologi dan konflik sosial, yakni toleransi beragama. Dalam setiap agama pasti mengandung ajaran-ajaran yang mengajarkan perlakuan baik terhadap sesama manusia, terutama tentang toleransi atau saling menghargai antar umat beragama.

Secara etimologi atau bahasa, toleransi berasal dari kata tolerance/ tolerantion yaitu suatu sikap yang membiarkan dan lapang dada terhadap perbedaan orang lain, baik pada masalah pendapat (opinion) agama kepercayaan atau segi ekonomi, sosial, dan politik. Didalam bahasa Arab mempunyai persamaan makna dengan kata tasamuh dari lafadz samaha yang artinya ampun, maaf, dan lapang dada. Sedangkan secara terminologi Toleransi adalah sikap saling menghargai, menghormati, menyampaikan pendapat, pandangan dan kepercayaan antar sesama manusia. (Ahmad Warson Munawir:1098)

Credit : KKN-DR 29
Mahasiswa KKN UIN-SI Samarinda Memberikan Hadiah Kepada Masyarakat

Dalam konteks sosial, budaya dan agama, toleransi adalah sikap dan tindakan yang melarang diskriminasi terhadap partai politik yang berbeda dalam suatu masyarakat. Dalam kehidupan sosial yang nyata, konflik tidak dapat dielakkan dan suatu konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan dan membutuhkan peran serta semua pihak, serta dapat membantu membangun harmoni. Oleh karena itu konflik diperlukan untuk menyadarkan masyarakat akan adanya masalah, sehingga dapat mendorong perubahan yang lebih baik dan dengan demikian menjadi peka secara sosial. Dalam kehidupan bermasyarakat, toleransi sangat dibutuhkan karena dapat membantu membangun kerukunan.

Indonesia sendiri memiliki alat pemersatu keberagaman yakni Pancasila. Pancasila sebagai Lambang Negara memiliki Semboyan, yaitu, “Bhineka Tunggak Ika” yang artinya Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu. Makna toleransi dalam kebhinekaan  adalah hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai diantara keberagaman, suku, bangsa, agama, adat istiadat dan bahasa.

Kementrian Agama mengatakan bahwa tingkat toleransi beragama di indonesia cukup tinggi di tahun 2019 yaitu 73,83. Kapuslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag Adlin Sila menjelaskan bahwa dalam pengukuran indeks kerukunan umat beragama di tanah air dapat dilihat dari dua dimensi, yakni toleransi kesetaraan dan kerja sama, Adlin juga mengatakan skor kerukunan beragama disetiap lembaga berbeda. Dengan perbedaan inilah maka toleransi antar umat beragama sangat diperlukan dalam menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat yang terdiri dari latar belakang agama yang berbeda. Tanpa toleransi tidak mungkin ada kehidupan bersama dengan rukun, aman, damai dan bahagia.

Di daerah Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara terdapat masyarakat yang beragama Islam, Hindu dan Kristen dimana mereka hidup saling berdampingan. Jika kalian bepergian ke daerah L2 Tenggarong Seberang, kalian akan menemukan tempat ibadah orang Hindu yakni pura yang berada di pinggir kanan dan kiri jalan besar, disana hampir separuh warganya beragama Hindu dan yang lainnya ada yang beragam Islam dan Kristen. Mereka hidup saling berdampingan dengan menghargai perbedaan diantara mereka dan menjunjung tinggi toleransi.

“Sikap toleransi yang ditunjukkan antara warga yang beragama Hindu dengan warga yang beragama Islam dan Kristen, baik itu Kristen Khatolik maupun Protestan cenderung terjadi antar orang perorangan namun juga terkadang antar kelompok seperti saat pada acara pertemuan-pertemuan warga pada kegiatan gotong royong dan juga pada kegiatan perayaan 17 Agustus dengan mengadakan lomba-lomba.

Credit : KKN-DR 29
Mahasiswa KKN UIN-SI Samarinda Memberikan Hadiah Kepada Masyarakat

Hasil ini menunjukkan bahwa toleransi antar umat beragama Islam, Hindu, dan Kristen Katholik dan Protestan di daerah ini tidak ada masalah yang berarti. Perbedaan pandangan pada suatu waktu pernah terjadi, namun secara umum dapat dikatakan toleransi yang terjalin di daerah kami bersifat harmonis. Perbedaan pandangan dan pendapat dianggap sebagai suatu dinamika kehidupan yang selalu ada dalam kehidupan bersama”, kata Bapak I Wayan Arsa, S.Pd, Kepala Sekolah di SMAN 1 Tenggarong Seberang sekaligus warga desa L2 Tenggarong Seberang pada penyampaiannya dalam sebuah webinar yang diadakan oleh mahasiswa KKN-DR 29 dengan tema “Implementasi Toleransi Antar Agama”, pada Senin, (09/08/2021).

“Di sekolah kami SMAN 1 Tenggarong Seberang, toleransi sangat kental, dimana setiap siswa sangat menghargai teman-teman lainnya yang berbeda agama. Mereka masing-masing melaksanakan ibadahnya setelah itu mereka saling merangkul kembali. Kami selalu mengajarkan kepada guru-guru dan siswa lainnya untuk saling menghargai agar tidak terjadi kasus bullying atau diskriminasi antara mayoritas terhadap minoritas di antara lainnya. Pada intinya toleransi akan membuat kita hidup bahagia, aman dan damai ditengah perbedaan”, sambung beliau.

Selain itu, pemateri lainnya yaitu Bapak Sutejo, S.Ag guru di SMAN 1 Tenggarong Seberang sekaligus warga desa Separi menerangkan bahwa “Perbedaan adalah rahmat dari Allah swt. Begitu banyak perbedaan-perbedaan diantara kita yang dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an sehingga Islam sangat menjunjung tolransi dengan agama lain. Mengapa kita harus toleran? Karena dalam kehidupan, kita mempunyai pendapat masing-masing, kita mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda, kita mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dan kita mempunyai keyakinan yang berbeda-beda yang membuat manusia saat melihat sesuatu hendaknya saling menghargai perbedaan, serta kedamaian ada ketika kita mau menerima perbedaan”.

Bapak Sintowati Pujawanto, S.Pd yang juga seorang guru d SMAN 1 Tenggarong Seberang menjelaskan “penerapan toleransi agama di sekitar rumah saya itu, biasanya kami gotong royong membersihkan sekitar rumah, kemudian memasang lampu-lampu dan bendera merah putih pada saat menjelang 17 Agustus dan masih banyak lagi penerapan toleransi di sekitar tempat tinggal saya dan itu membuat perbedaan diantara kami bukanlah penghalang untuk saling merangkul, saling membantu dan saling menghargai satu sama lain. Itulah indahnya toleransi”.

Meskipun di Indonesia terdiri dari berbagai macam ras, suku, agama, budaya, bahasa dan jenis kulit akan tetapi kita hendaknya saling menghargai satu antar yang lainnya. Semoga dengan saling menghargai bisa menjadi kekuatan negara Indonesia yaitu persatuan yang kuat akan keindahan beragama. Perbedaan itu bukanlah suatu yang harus diperdebatkan, jadikanlah perbedaan itu sebagai keragaman. Toleransi akan membuat kita hidup bahagia, aman dan damai ditengah perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *