Aksi Damai Omnibus Law Berakhir Ricuh
Samarinda, LPM Cakrawala- Pengesahan Omnibus law hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Hal tersebut memicu terjadinya aksi demonstrasi untuk yang kesekian kalinya.
Elemen mahasiswa dan buruh kembali memadati depan kantor DPRD Kalimantan Timur, Senin (12/10). Hal tersebut lantaran tidak adanya respon serta jawaban dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur pada 8 Oktober yang sempat berakhir ricuh. Massa aksi melakukan longmarch dari titik kumpul Masjid Islamic Center menuju Kantor DPRD Kalimantan Timur. Aksi kali ini dihadiri oleh mahasiswi, buruh, dan ormas-ormas yang ada di Kalimantan Timur. Aksi penolakan Omnibus law terpantau kondusif hingga pukul 18.30 WITA.

Demonstran dalam aksinya, melontarkan sindiran sindiran kecil kepada anggota DPRD melalui orasi, “Menolak UU Omnibus Law ini, karna kami warga buruh dan pekerja tertindas dengan adanya pengesahan ini”, Ujar salah satu buruh.
Beberapa kegiatan terlihat dilakukan oleh massa aksi di depan Kantor DPRD Kalimantan Timur, seperti orasi baik dari perwakilan buruh, mahasiswa, pembacaan puisi, pantun, penampilan teater dan habsy.
Situasi saling sindir mulai memanas ketika pihak dari dewan DPRD keluar dan menemui para demonstran pukul 18.45 WITA. Pihak mahasiswa meminta tanda tangan untuk penolakan Omnibus Law, namun dewan DPRD meminta waktu untuk bisa bernegosiasi dengan Ketua DPRD.
Keputusan atas penolakan Omnibus law hanya menjadi bayang semu. Pihak DPR menolak dalam menyikapi permintaan massa. Namun para demostran tetap bertahan disaat aparat keamanan meminta para demonstran bubar pada pukul 19.10 WITA. Situasi mulai memanas saat massa meminta kembali kepada Wakil DPRD untuk bisa memenuhi permintaan demonstran,
“Kami akan bubar apabila pihak DPRD menyepakati dan menandatangani MOU yang diajukan”, Protes salah satu massa.
Alhasil puncak kebrutalan yaitu saat adzan Isya berkumandang, kurang lebih jam 19.30 wita. Massa pun murka karena aspirasi nya di tolak. Saat waktu menunjukkan pukul 21.20 wita, polisi menembakkan beberapa kali petasan ke arah massa sehingga para demonstran berlarian menjauh dari lokasi demonstran. Ada beberapa mahasiswa yang terkena kekerasan oleh pihak aparat keamanan, banyak handphone mahasiswa yang di rebut lalu di banting oleh aparat, karna kedapatan mengambil video, bahkan aksi kali ini banyak memakan korban luka2 dan patah leher karena terinjak massa. Terjadi kejar – kejaran antara massa dengan aparat, serta 30 massa aksi ditangkap hingga sampai saat ini. (Nra/Sny)