Januari 19, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Tindakan Represif Aparat Keamanan Dalam Pembubaran Massa Aksi Tolak Omnibus Law

Samarinda, LPM Cakrawala- Aksi penolakan omnibuslaw pada hari Kamis (8/10), di depan kantor DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) mendapatkan Tindakan represif dari aparat dalam pembubarannya. Aksi yang diikuti oleh mahasiswa, pelajar dan juga buruh pekerja berujung chaos.
Bermula saat masa aksi ingin membuka gerbang utama Gedung DPRD kaltim, pada pukul 16. 16 WITA yang mendapatkan balasan langsung watercanon dan gas air mata oleh aparat ke arah kerumunan massa, hal ini membuat demonstran terpecah, tak hanya itu saja aparat bersenjata lengkap bersiap siaga dari arah selatan dan juga utara Jalan Teuku Umar, guna mengepung massa.

Satu dua tiga kali tembakan gas air mata menghujani massa aksi hingga akhirnya terpecah terbagi bagi ke penjuru arah, masuk dalam gang sempit, bersembunyi di dalam rumah dan fasilitias umum lainnya. Tak sedikit yang tertangkap oleh aparat dan diperlakukan secara reprensif. Tendangan dan pukulan melayang ke sekujur badan, Hal ini disampaikan oleh rofiq salah satu korban represif aparat sore tadi, ia mengatakan, “Kami yang tertangkap dipukul satu dua kali, sempat juga terkena pukulan rotan saat jongkok berjalan ke dalam menuju halaman kantor DPRD”, Tukasnya.

Namun tak menyerah, massa yang sebelumnya telah terpecah kembali terkumpul ke titik semula, tak sampai terkumpul seluruhnya aparat kepolisian lagi lagi menembakkan gas air mata ke arah sebaliknya, hingga tak sedikit yang tertangkap dan mendapatkan tindakan represif dari kejaran aparat untuk kesekian kalinya.

Dalam penangkapan mahasiswa aparat melarang pengambilan gambar dan video serta memaksa penghapusan video dan foto salah satu ojek online yang sedang merekam “Hapus, jangan ada yang merekam sama yang foto, hpnya simpan”, Ujar salah satu aparat yang menyamar dengan berbaju biasa.

Kurang lebih 150 jumlah mahasiswa dan juga pelajar diamankan dan dikumpulkan di halaman kantor DPRD, hingga pukul 18.15 WITA. Melalui negosiasi kordinator lapangan para mahasiswa dapat dibebaskan pada sore itu juga, ia memohon kepada mahasiswa untuk tetap tenang dan jangan terprovokasi agar dapat keluar dengan lancar, “Teman teman jangan mendengarkan suara apapun cukup diam dan tenang”, Mohonnya. (Sny/Nra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *