Aplikasi Rentan Bahaya, Dosen: Dengar-dengar Saja Belum Tahu Dampak Pastinya
Samarinda, LPM Cakrawala- Pasca maraknya pembatasan berkontak fisik (Physical Distancing), seluruh kegiatan yang melibatkan orang banyak seperti kegiatan proses pembelajaran dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh. Sehingga membutuhkan beberapa aplikasi agar dapat menunjang proses pembelajaran.
Banyaknya aplikasi yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran selama masa Pandemi Covid-19, Zoom Us merupakan salah satu aplikasi yang kerap digendrungi oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi sangat disayangkan, aplikasi yang memiliki banyak peminat tetapi tidak didukung oleh sistem keamanan yang kuat. Sehingga membuat para pengguna merasa cemas akan bocornya data pengguna.
Seiring berjalannya proses pembelajaran secara Daring, beberapa bulan belakangan, aplikasi video conference ini telah banyak dilaporkan oleh penggunanya karena telah mengirim data diri pengguna melalui facebook. Dilansir melalui laman Kumparan.com, Eric Yuan selaku CEO Zoom mengakui bahwasannya pihak zoom tengah terburu-buru dalam melakukan pengembangan pada beberapa fitur tanpa fokus terlebih dahulu untuk memperbaiki sistem keamanan aplikasi.
Aplikasi zoom memiliki beberapa kekurangan dalam programnya. Dikutip melalui Liputan6.com diantaranya, data yang rentan dicuri, data dikirim ke facebook tanpa sepengetahuan pengguna, memungkinkan terjadinya penyadapan. Maka dari itu untuk mengatasi kesalahan yang terjadi, pendiri Zoom meminta maaf dan berusaha untuk melakukan perbaikan pada programnya termasuk dalam melakukan peningkatkan privasi dan keamanan pada aplikasi mereka.
.
Dari beberapa kekurangan yang ada, sebagian masyarakat masih banyak yang tidak memperdulikan hal tersebut. Sama halnya dengan beberapa oknum dosen yang ada di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda. Sampai saat ini masih ada yang menggunakan aplikasi Zoom meeting dalam pembelajaran daring.
NH yang merupakan Dosen IAIN Samrinda, salah satu pengguna aplikasi Zoom, dirinya mengaku masih belum mengetahui dampak pastinya dari penggunanaan aplikasi video conference tersebut, “Sampai saat ini hanya baru mendengar melalui berita yang beredar saja, dan belum mengetahui dampak pasti yang terjadi melalui penggunaan aplikasi tersebut”, Ujarnya.
Muhammad Nasir, Wakil Rektor I mempersilahkan untuk menggunakan aplikasi lain selain dari yang diberitahukan oleh pihak lembaga, akan tetapi harus dengan kesepakatan antara dosen dan mahasiswa terlebih dahulu, “Kita dapat menggunakan aplikasi CloudX untuk proses pembelajaran. Akan tetapi, kami tidak melarang jika ada yang ingin menggunakan aplikasi di luar dari itu” ujarnya (30/04). Ia juga menambahkan, agar keluarga besar IAIN Samarinda dapat memaksimalkan dalam penggunaan aplikasi CloudX yang sudah disepakati oleh lembaga dan telkomsel, “Saya berharap keluarga besar IAIN Samarinda menggunakan sarana pembelajaran daring ini secara maksimal”, harapnya. (Ern/Trx)