Konsolidasi Mahasiswa Hasilkan Tuntutan Keadilan dari Pihak Kampus
Samarinda, LPM Cakrawala – Menanggapi kasus yang beredar, Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda (UINSI) Samarinda mulai bergerak membentuk aliansi konsolidasi untuk mengawal kasus hingga menemukan titik terang.
Sebelumnya, dikabarkan bahwa muncul kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) sejak (01/12) melalui Instagram. Hal ini lantas menimbulkan huru-hara dan kemarahan publik, baik dalam maupun luar kampus. Pasalnya, kasus ini telah mencoreng nama baik kampus.
Andriyan Dwi Saputra selaku Presiden Mahasiswa UINSI mengungkapkan bahwa kasus ini telah tersebar kemana-mana di sosial media, bahkan sudah diberitakan oleh media luar kampus. “Permasalahan yang sudah terjadi ini harus diselesaikan melalui jalur hukum. Sikap rektorat sudah di minta sejak tanggal 2, tapi pernyataan itu baru muncul siang ini,” ujar Andriyan.
Disamping itu, Ebby Zulfa, ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Community Organization (ECO) menginformasikan bahwa dasar terjadinya sebuah pelecehan ketika salah satunya tidak ingin, namun pada bukti yang tersebar, keduanya sama sama menginginkan hal tersebut. “Kita perlu bukti kuat yang akan menyudutkan korban. Untuk saat ini, proses pengumpulan bukti harus dilakukan secara intensif,” ucap Ebby.
Sementara itu, Yusril Rosyid selaku ketua Senat Mahasiswa (Sema) UINSI Samarinda menegaskan bahwa kasus ini perlu transparansi secara mendalam, sebab informasinya, terduga pelaku hadir didampingi oleh kuasa hukum. “Kita perlu informasi dari pertemuan itu,” ungkapnya.
Terdapat berbagai tuntutan yang akan di layangkan kepada pihak yang mencoba melindungi pelaku, beberapa diantaranya adalah kasus pemukulan, pencemaran nama baik, penanganan kasus yang bertele-tele, hingga intimidasi pihak kampus terdapat korban.
Hanif Ansyari, Wakil Presiden Mahasiswa UINSI Samarinda, berharap secara pribadi untuk memutasi orang-orang yang mencoba menutup-nutupi masalah ini. “Saya harap orang-orang yang mewajarkan kasus ini juga bisa segera ditindak. Hal ini membuat korban merasa tidak aman berada di kampus,” jelas Hanif.
Situasi ini menuntut langkah cepat dan tegas, agar polemik tidak semakin melebar dan kampus dapat kembali menjadi lingkungan yang aman serta berintegritas. Aliansi mahasiswa berharap terciptanya ruang aman bagi seluruh civitas akademika, serta keadilan yang benar-benar berpihak kepada para korban.
(Cmt, Ftr, Cvm) / (Cmt)