Januari 18, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Ada Yang Terabaikan Bukan Cintaku, Melainkan Almamaterku

Sudah dua bulan kami menunggu, sejak Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) 2025 terlaksana, jaket almamater sebagai simbol identitas sederhana hingga kini (29/10) belum ada kepastiannya. Di banyak kampus ini urusan rutin yang ringan, tapi di UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menjadi urusan dengan tanda tanya besar.

Data dari Litbang LPM Cakrawala ada sekitar 1.313 peserta PBAK 2025 dan 1.176 peserta yang terdaftar belum mendapatkan almamater. Menandakan kegagalan sistem yang menyentuh martabat kelembagaan. Pada Motto UINSI sudah jelas ada Spiritualitas, Intelektualitas, dan Profesionalitas. Karena kejadian ini yang mestinya paling mudah diselesaikan, profesionalitas lembaga kini dipertanyakan.

Benar jika almamater “hanya” selembar kain berwarna institusi dengan logo. Tapi selembar kain tersebut berdampak pada kawan-kawan yang tersendat dalam mengikuti kegiatan resmi. Kebanggaan yang biasanya meledak di awal perkuliahan mengecil oleh satu pertanyaan di dalam kepala “Sebenarnya kami ini diakui atau tidak?”

Kami paham pengadaan barang tidak sesederhana hari ini kita pesan lalu besok barang datang, ada proses dan standar kualitas. Tetapi ketiadaan penjelasan adalah pilihan, bukan keniscayaan. Tahun 2023 distribusi berjalan normal sebelum PBAK sudah dibagikan. Tahun 2024 juga sama distribusinya normal. Tahun ini mengapa berbeda? Jika ada dana terlambat, katakan. Jika produksi macet, katakan. Jika spesifikasi direvisi, katakan. Kabar yang tidak menyenangkan pun bisa kami terima selama jujur dan rinci. Yang melelahkan adalah spekulasi yang tumbuh karena sunyinya informasi.

Sejalan amanat Ki Hadjar Dewantara “tut wuri handayani”. Rektorat sebagai pengampu kebijakan, unit pengadaan sebagai jantung proses, dan DEMA Universitas sebagai jembatan aspirasi tugasnya bukan saling tunjuk, bukan saling menyalahkan, melainkan saling mempertanggung jawabkan, Karena tujuan kita sama, kampus yang kredibel. Maka dari itu Izinkan kami menyampaikan dua tuntutan kali ini:

– Publikasikan linimasa resmi pengadaan dan distribusi.
Bukan sekadar “segera”, melainkan tanggal konkret: kapan kontrak diteken, produksi selesai, barang diterima, dan dibagikan per fakultas. Linimasa membuat kami menunggu dengan kepala tegak, bukan menebak dengan cemas.

– Tunjuk Person In Charge (PIC) yang jelas dan sediakan kanal aduan yang responsif.
Sebut unit, nama, dan jalur kontak. Transparansi bukan untuk mempermalukan siapa pun; ia adalah mekanisme kepercayaan. Ketika kanal itu hidup, rumor padam dengan sendirinya.

Kepada DEMA, ini saatnya memperkuat tata kelola advokasi. Data terdampak sudah ada dan nyata, yang kami minta hanyalah bantu pembaruan berkala informasi dan bantu pengawalan hingga selesai. Advokasi yang rapi bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling lengkap bukti dan jelas solusinya.

Tulisan yang bernada kritis ini adalah bentuk karena kami mencintai UINSI. Meminjam kata Tan Malaka, “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda.” Cinta yang sehat berani menegur adalah cinta yang dewasa memberi ruang untuk memperbaiki. Di mana keberanian berjalan berdampingan dengan kesantunan. Dan ya, karena identitas tidak seharusnya dibiarkan menggantung selama ini.

Yang kami minta sederhana, kepastian yang bisa diperiksa. Jika tanggal distribusi ditetapkan, kami akan menyesuaikan. Jika ada kendala tak terduga, kami akan memahami. Jika berjalannya perlu diawasi, kami siap membantu mengawasi. Tapi jangan meminta kami diam ketika identitas kami absen di hadapan publik. Kami mahasiswa, suara lantang kami adalah bentuk yang wajar, tuntutan kami proporsional.

Hingga akhirnya, almamater bukan sekadar “jaket hijau”. Ia pernyataan singkat: “Kami bagian dari UINSI, dan UINSI bertanggung jawab atas kami.” Bila cinta bisa menunggu, identitas seharusnya tidak. Maka mari akhiri episode yang tak perlu ini, umumkan jadwal pendistribusiannya dan bagikan almamater. Biarkan kami kembali sibuk pada perkara yang lebih besar belajar sungguh-sungguh, berkarya sepenuh hati, dan mengharumkan nama UINSI kali ini dengan identitas yang utuh, tidak lagi terabaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *