Dua Ekor, Seribu Harapan: Perjuangan Konservasi Badak Kalimantan di tengah Krisis Ekologi
Kalimantan Timur merupakan provinsi yang kaya akan sumber daya alam karena melimpahnya flora dan fauna yang tersebar di berbagai daerah, seperti Pesut Mahakam, Orangutan, hingga Bekantan yang terancam punah sejak tahun 2000.
Kalimantan Timur bukan sekadar tanah yang kaya akan batu bara dan minyak, tetapi juga rumah bagi kehidupan hutan yang semakin rapuh. Di balik derasnya arus Sungai Mahakam, suara lembut Pesut Mahakam semakin jarang terdengar, tersisa tak lebih dari enam puluh ekor yang masih berjuang di antara jaring dan kapal tambang. Di rimba Wehea dan Kelay, Orangutan Kalimantan berpegangan pada ranting terakhir hutan yang terus menyempit. Sementara di tepian mangrove, Bekantan si monyet berhidung panjang, mulai kehilangan tempat untuk sekadar melompat dari satu pohon ke pohon lain.
Ironisnya, provinsi yang dikenal paling “kaya sumber daya alam” justru tengah menyaksikan kemiskinan ekologinya sendiri. Kekayaan itu, bila tak diimbangi dengan kesadaran ekologis, hanya akan meninggalkan jejak hening: hutan tanpa penghuni, sungai tanpa kehidupan, dan tanah yang kehilangan jati dirinya sebagai paru-paru pulau Borneo.
Salah satu fauna yang semakin terancam punah di hutan Kalimantan adalah Badak Kalimantan. Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) merupakan salah satu hewan endemik Kalimantan Timur yang berkembang biak jauh di pedalaman hutan Kalimantan. Habitatnya meliputi hutan hujan tropis dan tepi hutan, mereka dominan menyukai kondisi hutan yang lebat. Hal ini juga dipengaruhi oleh sifat alami Badak yang suka menyendiri, terutama karena sifat teritorial dan rendahnya tingkat kelahiran yang dialami. Biasanya, badak menandai wilayahnya dengan urinasi.
Dikutip dari Animal Diversity, berikut ini klasifikasi dari badak Kalimantan:
• Famili: Rhinocerotidae
• Genus: Dicerorhinus
• Spesies: Dicerorhinus sumatrensis
• Subspesies: Dicerorhinus sumatrensis harrissoni
Badak Kalimantan memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan badak pada umumnya, yaitu sekitar 350-370 kg saja. Tak berbeda jauh dari Badak Sumatera, Badak Kalimantan memiliki dua cula khas khusus genus Dicerorhinus yang memiliki permukaan kasar.
Habitat Badak Kalimantan terancam punah karena adanya kerusakan habitat akibat perencanaan pembukaan lahan batu bara. Seperti yang kita ketahui, tambang sudah sangat merajalela di bumi Borneo. Seakan-akan, lahan kosong tak akan terlepas dari lahan tambang. Badak Kalimantan telah dianggap terancam punah dan masuk ke dalam list merah International Union for Conservation of Natural (IUCN) sejak 2019 hingga sekarang.
Menurut informasi yang dibagikan oleh akun TikTok @borneosocial, populasi Badak Kalimantan kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, karena diduga hanya tersisa dua ekor saja. Salah satu individu telah berhasil diamankan dan mendapatkan perlindungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di wilayah Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sementara itu, satu ekor lainnya masih bertahan hidup di habitat alaminya, namun keberadaannya berada di luar kawasan taman nasional, yang membuatnya sangat rentan terhadap berbagai ancaman, seperti perburuan liar dan kerusakan habitat akibat aktivitas manusia. Kondisi ini menunjukkan betapa kritisnya upaya pelestarian badak di Kalimantan yang kini berada di ambang kepunahan.
Kawasan hutan hujan tropis di Kalimantan telah dibabat sedikit demi sedikit demi kepentingan pemerintah, seperti adanya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Hal ini merupakan deforestasi habitat yang akan membuat Badak Kalimantan kehilangan rumahnya dan punah.
Kawasan hutan Kalimantan perlu menjadi perhatian lebih pemerintah sebagai upaya konservasi berkelanjutan. Peran pemerintah sangat penting untuk menjaga kelestarian ekologi hutan Kalimantan dengan berupaya untuk mengendalikan aktivitas eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, seperti penebangan liar dan pembukaan lahan untuk pertambangan maupun perkebunan besar. Pemerintah juga perlu memperkuat kebijakan perlindungan lingkungan dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai penjaga ekosistem alami. Selain itu, penerapan teknologi ramah lingkungan dan program reboisasi berkelanjutan dapat menjadi langkah konkret dalam memulihkan kawasan yang rusak. Upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta menjadi kunci utama untuk memastikan hutan Kalimantan tetap lestari demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
Upaya konservasi Badak Kalimantan perlu dilihat tidak hanya dari sisi pelestarian spesies, tetapi juga dari pemahaman ekologinya secara menyeluruh. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah memperkuat program konservasi ex situ, seperti penangkaran dan reproduksi berbantuan (assisted reproduction), untuk mencegah kepunahan total. Mahasiswa biologi dapat berperan melalui riset genetika populasi dan studi perilaku guna memastikan keberhasilan program tersebut. Selain itu, perlu dilakukan restorasi habitat alami dengan menjaga keutuhan ekosistem hutan tropis sebagai tempat hidup ideal bagi badak, sekaligus mengurangi ancaman perburuan dan fragmentasi habitat.
Pendekatan edukatif juga penting, mahasiswa dapat menjadi agen penyebar informasi tentang pentingnya peran Badak Kalimantan dalam menjaga keseimbangan ekosistem, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi berbasis komunitas. Dengan kolaborasi antara lembaga penelitian, pemerintah, dan masyarakat, konservasi Badak Kalimantan tidak hanya menjadi agenda penyelamatan satwa langka, tetapi juga wujud nyata tanggung jawab generasi muda terhadap keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.
Konservasi Badak Kalimantan dapat menjadi perhatian serius bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hayati Indonesia. Diharapkan pemerintah terus memperkuat kebijakan dan pendanaan untuk penelitian serta perlindungan habitat badak, sementara masyarakat dan akademisi turut aktif berpartisipasi melalui edukasi dan kegiatan konservasi nyata. Dengan kerja sama yang berkelanjutan, penulis berharap Badak Kalimantan tidak hanya dikenang sebagai simbol satwa langka yang hampir punah, tetapi dapat kembali hidup dengan aman di habitat alaminya sebagai bukti keberhasilan konservasi bangsa.
(Cmt) / (Cmt)