Setahun Pasca Demo, Fasilitas FTIK Masih Payah
Samarinda, LPM Cakrawala — Setahun pasca demonstrasi yang dilakukan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda ke Dekanat FTIK pada (25/9) lalu yang menuntut kelayakan fasilitas kampus dan menghasilkan kesepakatan antara kedua belah pihak. Kini keluhan fasilitas pendukung pembelajaran seperti kipas angin, kursi sampai kakus, kembali muncul di kalangan mahasiswa.
Senin, (30/9) tahun 2024 lalu, dalam Isi Kesepakatan antara Dema FTIK dan Dekan FTIK, terdapat lima isi kesepakatan yang perlu direalisasikan oleh kedua belah pihak, yang berbunyi:
1. Pihak kedua akan memperbaiki dan menambahkan fasilitas (kipas di seluruh ruangan mahasiswa, WC di lantai 2 dan 3 dapat berfungsi, Wifi ditambahkan di beberapa titik) kejelasan tersebut.
2. Pihak kedua harus memperlihatkan kepada mahasiswa FTIK terkait transparansi anggaran pemeliharaan dan pengadaan barang di lingkungan FTIK secara detail.
3. Pihak kedua memperketat keamananan di kampus dengan pengadaan CCTV di lokasi parkiran mahasiswa FTIK dan pengadaan tempat penitipan helm.
4. Pihak pertama akan terus memantau dan mengawal segala bentuk tuntutan yang menjadi hak hak mahasiswa.
5. Pihak pertama dan kedua bersepakat untuk berkomitmen pada tuntutan yang ada, dalam waktu 14 hari, terhitung sejak tanggal 30 September 2024 – 13 Oktober 2024.
Walau sebagian kesepakatan telah terealisasikan namun masih ada keluhan mahasiswa tentang ketidaknyamanan akan fasilitas FTIK yang masih kurang memadai yang mana poin satu isi kesepakatan masih belum optimal.
Ana selaku mahasiswi semester 5 menyampaikan hanya sedikit tuntutan mahasiswa yang direalisasikan pasca demo di tahun 2024 lalu, “Hampir seluruh mahasiswa FTIK demo perihal fasilitas, tapi di setiap kelas hanya ditambahkan satu kipas, tidak diganti,” ucapnya.
Agung selaku mahasiswa semester 3 juga mengungkapkan bahwa kursi yang ada di FTIK jumlahnya kurang dan sudah robek. “Teman saya pernah tidak kebagian kursi dan harus mencari di lokal-lokal lain, sedangkan beberapa lokal sedang melaksanakan pembelajaran sehingga, kami hanya bisa mengambil dari lokal yang lokasinya jauh,” ujarnya.
Selain masih banyak fasilitas pendukung pembelajaran yang belum memadai, keluhan akan kakus FTIK juga menjadi sorotan mahasiswa. Salah satunya kakus di lantai satu, mahasiswa sering mengeluhkan macetnya saluran pembuangan air, sehingga memberikan rasa tidak nyaman kepada beberapa mahasiswa yang ingin menggunakan kakus.
Ita, mahasiswa semester 3, salah satu yang pernah menggunakan kakus, mengungkapkan pengalaman buruknya menggunakan kakus di lantai satu, “Setiap kali memasuki waktu zuhur air selalu mati, dan beberapa plafon di WC juga masih bolong, jadi, rasanya serem juga,” ungkapnya.
Menanggapi dari banyaknya keluhan mahasiswa FTIK terkait fasilitas yang masih kurang memadai, Rahmat Hidayah selaku ketua umum DEMA FTIK 2025 mengatakan bahwa mereka telah melaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada minggu (11/10).
“Dalam kurun waktu dua minggu setelah RDP dilaksanakan, pihak pimpinan akan bergerak memperbaiki fasilitas hasil keluhan dari mahasiswa FTIK tapi, jika masih belum ada hasil maka kami yang akan bergerak sebagai garda depan untuk mahasiswa FTIK,” tutupnya.
(Sai) / (Cmt)