Januari 17, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Water Canon dan Gas Air Mata Banjiri Jalanan Usai Aksi Demonstrasi

Samarinda, LPM Cakrawala – Gelombang protes massa aksi demonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Prov. Kalimantan Timur pada Senin (01/09) berakhir ricuh. Tembakan water canon dan gas air mata telah berhasil dilayangkan oleh aparat kepolisian pasca demonstrasi untuk membubarkan seluruh elemen masyarakat yang ada di zona merah demonstrasi.

Situasi yang semula berjalan damai sejak 17.00 WITA berubah menjadi sedikit ricuh setelah massa terlibat dorong-mendorong untuk menghindari water canon dan gas air mata. Massa berlari ke daerah jalan Tengkawang untuk melindungi diri dari berbagai lemparan yang ada.

Kericuhan tersebut mengakibatkan sejumlah korban dari kalangan mahasiswa maupun polisi yang bertugas telah tumbang di lokasi. Beberapa diantaranya pingsan dan sesak nafas karena berdesak-desakan, iritasi karena adanya gas air mata, hingga lebam karena terlempar benda. Tim medis lapangan bersama relawan segera mengevakuasi korban ke area yang lebih aman, sementara sebagian lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Berdasarkan informasi dari Joko Iswanto selaku Ketua Info Taruna Samarinda, posko medis yang berlokasi di halaman kantor PU, gedung DPRD dan gedung Dekonsep telah menangani 38 korban, 22 diantaranya adalah mahasiswa dan sisanya adalah aparat kepolisian. “Berdasarkan catatan tim medis, keluhan yang dialami oleh peserta aksi dan aparat keamanan adalah sesak nafas, pusing, asma, hingga luka karena terkena benda tumpul,” tuturnya melalui sebaran Whatsapp pada (02/09).

“Seluruh tim medis telah melaksanakan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab. Penanganan korban dilakukan secara cepat dan terkoordinasi, baik di posko maupun rujukan ke fasilitas umum,” ujarnya. Ia juga menambahkan informasi bahwa rumah sakit yang terlibat dalam tim medis demonstrasi adalah Satuan Relawan Samarinda, PMI, Samarinda Siaga 112, RSUD AW Sjahranie, RS Hermina, RS Atma Husada, RS Mata Kaltim, serta Dinas Kesehatan Prov. Kalimantan Timur dan Kota Samarinda.

Disamping itu, Muhammad Abdurrahman, salah satu korban gas air mata yang dilayangkan oleh aparat berpendapat bahwa penggunaan gas air mata kepada massa aksi sangat efektif untuk membubarkan kerumunan, namun hal ini juga berdampak sangat negatif ke masyarakat sekitar, salah satunya anak anak di sekitar lokasi demo. “Lokasi demo kan juga dekat sama rumah warga, takutnya tak hanya massa aksi yang terkena lemparan, tapi warga sekitar juga,” ungkap Rahman.

“Saya posisinya di jalan Teuku Umar bagian kiri dan sudah berusaha untuk menjauh dari keramaian. Saya sempat bersembunyi di gedung Pemuda Pancasila, namun disuruh berpindah karena tidak aman. Di momen itu saya secara tidak sengaja terkena lemparan gas air mata oleh aparat,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa tim medis telah membantunya untuk meminimalisir rasa perih dari gas air mata. “Saya sempat minta air sama minta oleskan odol agar tidak terlalu pedih. Kondisinya memang darurat sekali sampai harus buru-buru dari medis dan lari lagi dari serangan lanjutan,” tambah Rahman.

Sementara itu, beberapa peserta aksi demonstrasi dari Aliansi UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda juga sempat memberikan beberapa pengalamannya mengenai water canon dan gas air mata. Menurut kesaksian dari beberapa teman Aliansi UINSI, efek paling dominan adalah rasa perih yang menjalar di bagian wajah, khususnya bagian mata dan hidung, serta rasa mual berkepanjangan. Namun beberapa diantaranya membawa odol dan cairan NaCl pribadi sebagai antisipasi untuk menunggu penanganan medis.

Muhammad, korban gas air mata yang sempat dievakuasi sementara oleh tim medis berkomentar bahwa ia sempat tertinggal oleh kawanan mahasiswa karena hendak membantu masyarakat lari. “Gasnya terlempar tepat di samping saya. Posisinya juga sedang membawa bendera dan mau memasukkan almamater di tas, tidak bisa berbuat apa-apa dan tiba-tiba sudah digotong oleh medis,” komentarnya.

Di luar kericuhan tersebut, sejumlah pedagang kaki lima di sekitar kawasan DPRD mengaku panik akibat kondisi yang tidak kondusif. Beberapa penjual makanan dan minuman bahkan meninggalkan dagangannya begitu saja demi menyelamatkan diri, sementara sebagian lainnya memilih mengamankan barang dagangan mereka di trotoar. Suasana ricuh yang sempat mereda pada malam hari meninggalkan jejak kepanikan, mulai dari sisa tabung gas hingga sisa benda tumpul di jalanan yang tidak terkontrol.

Kondisi ini menjadi catatan penting bagi aparat dan masyarakat bahwa eskalasi demonstrasi tidak hanya berisiko menimbulkan kerugian fisik, tetapi juga dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan dan rasa aman warga sekitar.

(Cmt) / (Cmt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *