Ruang Demokrasi Samarinda Ditutup dengan Gas Air Mata
Samarinda, LPM Cakrawala – Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh seluruh warga sipil hingga mahasiswa telah digelar di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Prov. Kalimantan Timur pada (01/09). Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap berbagai isu yang belum tersampaikan kepada pemerintah daerah.
Dalam aksi ini mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda juga turut mengambil peran. Kurang lebih sebanyak 130 mahasiswa ikut turun kejalan dengan harapan dapat berhasil mendapatkan goals aksi hari ini.
Andriyan Dwi Saputra, Presiden Mahasiswa UINSI, turut menegaskan bahwa UINSI akan berkomitmen penuh dalam aksi ini. “Harapan kami adalah seluruh tuntutan yang kami sampaikan hari ini dapat diindahkan oleh pimpinan DPRD. Kami tidak butuh jawaban normatif yang tidak menjawab permasalahan masyarakat. Kami hanya ingin duduk bersama anggota DPRD provinsi bersama seluruh massa aksi untuk membahas tuntutan-tuntutan kami,” pungkas Adriyan.
Ia juga menerangkan demi alasan keselamatan, mahasiswa UINSI perempuan telah diinstruksikan untuk membubarkan diri demi keamanan ketika suasana sudah tidak kondusif, sementara mahasiswa laki-laki yang berpengalaman tetap berada di lokasi dengan menjaga jarak dari barisan depan massa aksi.

Sementara itu, Ferry Septian Gymnastiar, koordinator internal dari Aliansi Mahakam, menjelaskan bahwa audiensi dengan pihak DPRD belum dapat dilaksanakan pada hari ini. Namun, ia menyatakan bahwa tim lapangan akan mempertimbangkan aksi demonstrasi lanjutan hingga tuntutan mereka terpenuhi. “Untuk demo sampai malam, itu tergantung lagi pada Jenderal Lapangan. Kami mengikuti arahan dari Jenlap, entah kami akan menarik mundur dulu baru maju lagi, atau melanjutkan dengan aksi demo susulan,” ujarnya.
Massa aksi berusaha untuk memasuki dan membuka paksa gedung DPRD dengan tujuan mengadakan rapat paripurna bersama anggota dewan dan mahasiswa. Namun, hingga sore hari, pihak DPRD belum dapat memenuhi tuntutan tersebut. Ferry menambahkan bahwa tawaran nota kesepakatan sempat diajukan, tetapi Aliansi Mahakam tetap menginginkan rapat tertutup di dalam gedung DPRD yang melibatkan seluruh peserta aksi.
“Ketua DPRD tiba-tiba turun karena tidak sepakat dengan tuntutan kami untuk masuk semua mahasiswa ke dalam gedung DPRD,” jelas Ferry. Ia juga menyatakan bahwa kemungkinan aksi demo susulan akan terjadi jika tidak ada langkah dan solusi konkret dari ketua dewan.
Menjelang malam situasi semakin memanas. Aparat kepolisian mulai mengambil tindakan tegas dengan menembakkan water canon dan gas air mata untuk membubarkan massa aksi. Akibatnya, kericuhan tak terhindarkan, dan massa aksi terpaksa mundur dari kawasan DPRD.

Selajur dengan hal ini, dikabarkan Aliansi Mahakam akan mengadakan evaluasi besar-besaran terkait demonstrasi yang telah terjadi.
Swz, Cmt / (Cmt)