Januari 19, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Ramai Kepala, Sepi Kesepakatan: Musma-U Jadi Ajang Adu Ego

Musyawarah mahasiswa merupakan ruang kolektif untuk menyatukan suara-suara demi satu kepentingan untuk mencapai tujuan bersama. Tapi di beberapa waktu, forum-forum musyawarah terasa mirip seperti pertunjukan debat tanpa hasil yang nihil.

Ruang musyawarah yang semestinya menjadi tempat penyusunan arah gerak organisasi justru berubah menjadi panggung adu ego parade ‘opini’ tanpa kesepakatan pasti.

Belum lagi jika yang duduk di depan sebagai presidium sidang tak kompeten dalam memimpin. Padahal yang dibutuhkan di forum musyawarah mahasiswa bukan hanya suara keras, tapi juga ketegasan yang jelas. Supaya apa? Supaya energi kita tidak dihabiskan hanya untuk memperdebatkan berbagai redaksi yang tidak bisa dirapikan di tengah sidang yang membara.

Untuk keluar dari lingkaran setan ini, kita perlu secara serius meninjau kembali budaya musyawarah kita. dimana setiap peserta harus datang dengan niat untuk berkolaborasi, bukan hanya untuk mendominasi. Ini berarti mendengarkan secara aktif, mencari titik temu, dan siap berkompromi demi kebaikan bersama. Selain itu kita perlu investasi dalam pelatihan presidium sidang. Mereka adalah nahkoda forum; kemampuan mereka dalam memimpin, menengahi, dan mengambil keputusan tegas adalah kunci keberhasilan. Presidium yang cakap mampu meredam emosi yang memanas dan mengarahkan diskusi kembali pada esensi permasalahan.

Ini bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara, tapi siapa yang mampu menata arah gerak mahasiswa. Musyawarah bukan lomba beropini, namun proses kolektif untuk mencari solusi di tengah ambisi. Kalau semua orang merasa harus didengar tapi tak ada yang benar-benar mendengarkan, maka musyawarah mahasiswa hanya menjadi lingkaran berputar tanpa ujung yang pasti.

Kita semua butuh belajar untuk dewasa dalam bermusyawarah. Kita harus tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus menyudahi perdebatan tak produktif. Bicara panjang lebar, namun substansi tertinggal.

Percuma hadir kalau kontribusinya hanya memperpanjang durasi tanpa memperkaya solusi.

Kawan-kawan, mungkin sudah waktunya kita berani mengevaluasi. Apakah kita benar-benar musyawarah, atau hanya menikmati gaduh yang kita ciptakan sendiri?

(Cmt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *