Antara Keluhan dan Janji Perbaikan: Pimpinan Fasya Diminta Tegas
Samarinda, LPM Cakrawala – Audiensi pasca konsolidasi pencerdasan mahasiswa Fakultas Syari’ah (Fasya) sebagai bentuk tindak lanjut keresahan warga Fasya terhadap ketegasan pimpinan Syari’ah telah dilaksanakan pada (11/06) lalu.
Terdapat lima poin utama yang dibahas pada audiensi panas kali ini. Beberapa di antaranya adalah sarana dan prasarana Fakultas Syari’ah yang tak layak pakai, dosen yang mengajar di hari libur, kejelasan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk mahasiswa semester akhir, transparansi anggaran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fasya, hingga kontribusi dekan terhadap Ormawa setempat.
Dalam forum tersebut, Rahman Fadil, selaku perwakilan mahasiswa Fasya, menyampaikan keresahan mahasiswa semester akhir terkait kejelasan program MBKM. Ia menyuarakan perlunya kepastian dari pihak fakultas, terutama dalam menghadapi masa-masa penting seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Kerja Lapangan (PKL). “Mahasiswa semester akhir memiliki banyak sekali keresahan, salah satunya adalah kelanjutan program MBKM ini. Bagaimana hal ini bisa teratasi? Bagaimana kami akan melanjutkan hal ini? Di mana informasi ini akan kami temui? Kami minta kepastian dan kejelasannya,” tegasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Galang, selaku ketua umum Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fasya, mengungkapkan bahwa selama ini belum terlihat langkah konkret dari pihak pimpinan dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi. Ia menuturkan bahwa pimpinan hanya memberi respons terbatas, dengan beberapa persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh mahasiswa. “Tanggapan Dekan terkait beberapa poin permasalahan ini lumayan baik walaupun kami perlu memenuhi beberapa syarat. Salah satunya adalah mewujudkan Fasya yang bebas rokok,” tuturnya.
Sementara itu, Al-Fitri, Dekan Fakultas Syariah, menyampaikan kritik terhadap sikap sebagian mahasiswa Fasya yang dinilai kurang peduli terhadap lingkungan kampus. Ia menyebut bahwa jajaran dekanat dan dosen telah mengeluarkan dana pribadi untuk memperbaiki fasilitas, khususnya alat kebersihan, namun belum ada perubahan signifikan dalam perilaku mahasiswa.
“Jajaran dekanat dan dosen-dosen Fasya telah mengeluarkan uang pribadi untuk perbaikan fasilitas Fakultas, khususnya alat kebersihan. Tapi mahasiswa Fasya ini sulit sekali diatur, puntung rokok di mana-mana, sampah berserakan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran Dema dalam mengedukasi dan mengarahkan mahasiswa agar lebih bertanggung jawab. Dukungan penuh dari pihak dekanat akan diberikan jika mahasiswa mampu menjaga fasilitas dengan baik. Namun, ia juga memberi peringatan keras bila tuntutan terhadapnya tidak dibarengi dengan perubahan sikap mahasiswa. “Ketua Dema Fasya harus bisa mengontrol mahasiswa untuk merawat seluruh fasilitas Fasya. Jika hal itu terlaksana, kami akan mendukung penuh. Namun jika hal itu tidak terjadi dan saya ditekan untuk turun dari jabatan, saya akan benar-benar pergi,” tambahnya.
Disamping itu, Galang juga menyampaikan bahwa audiensi lanjutan akan digelar dalam waktu dekat sebagai upaya mencari titik temu bersama pimpinan fakultas. “Hari Selasa akan diadakan audiensi lanjutan terkait hal ini. Kami akan menyatukan pikiran bersama para pimpinan untuk mencapai beberapa keselarasan,” tambah Galang.
Audiensi Fasya akan menjadi gambaran bahwa mahasiswa tidak hanya menuntut hak, tetapi juga mulai membuka ruang diskusi untuk perubahan yang lebih baik.
(Cmt, Mto)