Menakar Ulang Makna Haflah di Tengah Efisiensi
Kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini sedang berlaku di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menuntut adanya pengurangan dan penyesuaian yang telah berdampak nyata pada berbagai kegiatan mahasiswa. Di tengah krisis tersebut, Ma’had Al Jamiah diketahui akan melaksanakan Haflah Akhirusannah, sebuah kegiatan seremonial penutupan Ma’had yang akan di gelar dengan skala besar.
Haflah tentu memiliki makna simbolik dan nilai budaya tersendiri dalam tradisi akademik UINSI Samarinda. Akan tetapi, pelaksanaannya di tengah keterbatasan akses dana terutama bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menimbulkan berbagai keheranan. Ketika sejumlah program mahasiswa ditunda, bahkan dipangkas, mengapa seremoni seperti ini justru tetap berlangsung? Lalu, dari mana dana kegiatan ini berasal?
Jika alokasi dana dari rektorat dibatasi atau tidak tersedia, maka ada kemungkinan dana diperoleh dari sponsor. Atau, yang lebih mengkhawatirkan, apakah akan dibebankan langsung kepada mahasiswa? Jika pungutan itu benar terjadi, dan mahasiswa dibebani untuk acara seremonial, maka bukan hanya regulasi yang dilanggar, tetapi juga memicu berbagai dampak negatif.
Berkaca pada Haflah Akhirusannah tahun 2024 yang masih memberikan bekas tak jelas. Dana pungutan mahasiswa ini awalnya bersifat ‘wajib’ bagi santri/santriwati Ma’had, namun tak juga dijelaskan transparansi dari dana tersebut. Apakah hal ini akan berulang kembali di tahun 2025?
Inilah yang membuat persoalan ini semakin problematik dan patut dipertanyakan. Mengapa kegiatan ini tetap dipaksakan untuk digelar dalam skala besar yang jelas tidak murah? Padahal secara substansi, haflah adalah seremoni penutupan program Ma’had yang bisa dilaksanakan secara sederhana dan bermakna dalam lingkup kecil per kelompok. Justru dalam kesederhanaan, nilai spiritual, kekhidmatan, dan kebersamaan dapat lebih terasa tanpa harus menimbulkan beban tambahan bagi mahasiswa.
Kegiatan simbolik seperti haflah tentu tidak keliru secara esensial. Namun, dalam konteks efisiensi, pelaksanaannya harus dilandasi logika prioritas dan mempertimbangkan urgensinya secara lebih rasional. Esensi efisiensi bukan semata soal memangkas, tetapi soal menata ulang prioritas dengan bijak.
Di tengah keterbatasan, yang mahasiswa butuhkan hari ini bukan simbolisme seremonial, melainkan dukungan terhadap pengembangan kapasitas mahasiswa, peningkatan fasilitas pembelajaran, dan ruang-ruang diskusi kritis. Jika haflah justru menghadirkan beban dan ketidakjelasan, maka yang akan tumbuh adalah rasa kecewa.
Haflah bukan masalah besar bila dilakukan dengan bijak. Namun ketika dilakukan tanpa transparansi, bahkan menimbulkan beban finansial, maka yang lahir bukanlah kenangan manis melainkan ketidakadilan yang disaksikan bersama
Niz / (Cmt)