Januari 20, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Keluh Kesah Mahasiswa Selama Awal Ramadhan

Samarinda, LPM Cakrawala – Memasuki hari ke 10 bulan Ramadhan, berbagai tantangan dihadapi oleh mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Banyak dari mereka merasakan penurunan produktivitas karena tubuh lebih cepat merasa lelah akibat berpuasa. Kondisi ini semakin berat bagi mahasiswa yang harus menyesuaikan pola hidup mereka, baik yang tinggal di kost, asrama, maupun yang pulang-pergi ke kampus setiap hari.

Bagi mahasiswa kost, memasak menjadi solusi utama untuk menghemat pengeluaran selama Ramadhan. Namun, tantangan terbesar mereka adalah sulitnya bangun sahur. Lisa Putri Ramadani, salah satu mahasiswa kost, mengaku sering terlambat bangun sahur karena tidak ada yang membangunkan. “Tantangan terbesar selama berpuasa di kost adalah sering telat bangun sahur, karena tidak ada yang membangunkan,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa yang tinggal di asrama menghadapi rutinitas Ramadhan yang lebih terstruktur. Mereka diwajibkan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, sahur, berbuka, dan tarawih bersama. Lilik Indayanti, mahasiswa penghuni asrama, menyampaikan bahwa setiap sesi kajian harus didokumentasikan dalam bentuk catatan. “Setiap kajian, baik subuh maupun ashar, kami harus mencatat materi yang disampaikan dan mendengarkan dengan cermat,” jelasnya.

Namun, padatnya jadwal kuliah yang dipadukan dengan kegiatan asrama menjadi tantangan tersendiri. Waktu istirahat menjadi terbatas, sehingga Ramadhan tahun ini terasa lebih melelahkan. “Kegiatan asrama kadang baru selesai pukul 11 malam, ditambah tugas kuliah yang menumpuk. Waktu istirahat sangat terbatas, karena pukul 3 dini hari harus bangun lagi untuk sahur,” tutur Lilik.

Meski begitu Lilik juga mengungkapkan bahwa di asrama juga lebih terasa suasana kekeluargaanya, “tinggal di asrama juga punya manfaat, karena jadwalnya lebih terstruktur, jadi kita lebih disiplin. Selain itu, sahur dan berbuka lebih ramai karena dilakukan bersama teman-teman, jadi suasananya lebih menyenangkan,” jelasnya.

Di sisi lain, mahasiswa yang tinggal bersama keluarga dan pulang-pergi ke kampus menghadapi tantangan tersendiri. Perjalanan yang jauh dan cuaca yang panas sering kali menguras tenaga, terutama jika harus menghadapi kemacetan di siang hari. “Kadang kalau perjalanan ke kampus terlalu jauh dan panas, rasa lemas makin terasa. Ditambah kalau ada kelas sore, pulangnya bisa capek banget,” keluhnya.

Ananda Salsabila juga sempat ikut membagikan pengalamannya sebagai mahasiswa yang pulang-pergi ke kampus selama Ramadhan. Ia menyebutkan bahwa jadwal keberangkatan ke kampus mengalami sedikit perubahan selama bulan puasa, “Biasanya saya berangkat lebih cepat 10 menit, tapi di Ramadhan ini sedikit lebih lambat karena menyesuaikan waktu sahur dan persiapan lainnya,” jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa perkuliahan selama sepuluh hari pertama Ramadhan terasa cukup berbeda, terutama karena adanya perubahan dalam sistem pengajaran. “Meskipun banyak lika-likunya , Ramadhan tetap bulan yang ditunggu-tunggu. Semangat mahasiswa!” tutupnya.

(Elf, Sai, Mlf) / (Cmt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *