Januari 19, 2026

LPM Cakrawala

Mencerahkan Untuk Menggerakkan

Strategi dan Komitmen Tegas Mahasiswa pada Konsolidasi Akbar

Samarinda, LPM Cakrawala – Elemen sipil dan mahasiswa se Kalimantan Timur menghadiri konsolidasi akbar yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KM) Universitas Mulawarman (Unmul) pada Sabtu (15/02) yang berlokasi di GOR 27 Unmul Samarinda sebagai respon adanya kebijakan efisiensi yang memangkas anggaran pendidikan.

Tercatat dalam hasil rapat kerja Kementrian Pendidikan Tinggi Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) dengan Komisi X DPR RI, terdapat kurang lebih 663,821 mahasiswa terancam putus kuliah. Efisiensi anggaran-pun dapat menimbulkan dampak lain, yaitu biaya pendapatan dari pemberian APBN kepada pemerintah pusat untuk perguruan tinggi yang senilai 800 miliar, dipotong menjadi 300 miliar yang akan menyebabkan kenaikan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di setiap kampus. Hal ini tentu saja menjadi perhatian berlebih bagi seluruh elemen sipil dan mahasiswa karena akan mengakibatkan sulitnya akses pendidikan di kalangan masyarakat, khususnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Pendidikan yang seharusnya menjadi Hak Asasi Manusia dan dapat diakses oleh setiap individu, justru kini hanya dapat dirasakan oleh kalangan tertentu saja.

Pada rezim Prabowo – Gibran, pendidikan ditempatkan pada posisi prioritas pendukung, sedangkan program makan bergizi gratis menjadi prioritas utama. Ini membuktikan bahwa dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja dan kehilangan peran pentingnya. Di saat seharusnya negara memberikan perhatian pada pendidikan masyarakat untuk membentuk generasi-generasi penerus bangsa, justru malah menempatkan pendidikan pada posisi prioritas pendukung, maka efisiensi anggaran ini menunjukkan adanya pengkhianatan terhadap amanat konstitusi yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pada Alinea keempat, yakni “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.

Ilham, selaku Koordinator Lapangan menuturkan tujuan diadakannya “Konsolidasi Akbar” untuk segera mencabut inpres no 1 tahun 2025, menolak revisi undang-undang (UU) MINERBA, serta menolak program makan bergizi gratis. “Tajuk kami, atau brand designnya adalah Indonesia gelap darurat pendidikan. Kemudian, kami bersikat untuk segera cabut inpres nomor satu tahun 2025, kemudian yang kedua, tolak revisi undang-undang minerba, kemudian yang ketiga, kita meminta tolak makan bergizi gratis,” ucap Ilham.

Berbagai keresahan yang dirasakan oleh para mahasiswa ini lah yang menggerakkan para mahasiswa untuk menghadiri konsolidasi akbar. Dika, mahasiswa dari fakultas ilmu sosial dan ilmu politik unmul, mengungkapkan motivasinya untuk menghadiri konsolidasi akbar adalah karena banyaknya ketidak adilan yang terjadi pada rezim saat ini. “Tentu banyak alasan ya, hari ini kita melihat kondisi bangsa kita di Indonesia ini dari rezim Prabowo, banyak sekali ketidak adilan. Terutama, saya cukup tersentak ketika ada pemberitaan bahwa terdapat beberapa honorer yang di PHK oleh dinas-dinasnya. Perihal ini cukup ironi, PHK terjadi karna akan dilakukan efisiensi untuk program makan siang bergizi gratis,” ungkapnya.

Selain mengenai pemberlakuan PHK, Dika menambahkan bahwa banyaknya tambang, khususunya tembang illegal yang berada di Kalimantan Timur ini cukup mengganggu, “Hari ini kita juga masih dihadapkan dengan isu RU MINERBA, karna saya rasa, kita di Kalimantan Timur ini cukup terganggu dengan adanya tambang-tambang, terutama di beberapa sektor di Kalimantan Timur ini. Bahkan ada tambang illegal selain tambang legal,” tambah Dika.

Tiga point tuntutan yang dihasilkan dari konsolidasi akbar ini diharapkan dapat dicapai keberhasilannya. Ilham menuturkan, “Dari ketiga point itu, kami ingin tiga-tiganya langsung diindahkan oleh pimpinan DPRD. Karena balik lagi, efisiensi anggaran ini kan kena ke semua sektor hanya demi terjalannya program makan bergizi gratis. Prabowo menjalankan program itu sudah menggunakan dananya pribadi sehingga dia harus mengorbankan segala rakyat agar berjalannya program itu. Ini kan sama saja tidak gratis, rakyat dibebani dengan pajak dan lain sebagainya,” tuturnya.

“Konsolidasi ini kami harap dapat menjadi ajang persatuan dari seluruh elemen mahasiswa di Kalimantan Timur untuk bagaimana sama-sama memajukan keresahan mereka dalam dunia pendidikan hari ini.” Harap Ilham.

Salah satu mahasiswa yang hadir pada konsolidasi akbar, Rifa’i, dari Universitas Borneo Tarakan berharap agar kita apat menggugat segala kebijakan yang tidak pro kepada rakyat. “Ya tentu kalau kita ingin melihat daripada konsolidasi ini, harapan besarnya bagaimana kita bisa menggugat semua apa yang menjadi kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat itu bisa betul-betul di atasi oleh rekan-rekan mahasiswa. Karena memang, salah satunya harapan ya ada di benak mahasiswa itu sendiri.” Tutupnya.

Setelah berjalannya konsolidasi akbar ini, para mahasiswa akan melakukan aksi pada Senin (17/02) di kantor DPDR Kalimantan Timur pukul 11.00 WITA dengan goals menyuruk DPRD Kalimantan Timur dan masuk ke dalam sidang paripurna.

(Swz, Saa, Mto, Niz) / (Cmt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *