Opini: Dongeng Kampus Hijau di Siang Hari
Opini: Dongeng Kampus Hijau di Siang Hari
Kampus hijau merupakan julukan bagi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda atau yang lebih akrab dipanggil UINSI Samarinda. Namun sayang, julukan kampus hijau ini dicemari dengan tumpukkan sampah yang menggunung di samping Auditorium 22 Dzulhijjah. Terlihat, sejak Kamis (03/10) pasca kegiatan salah satu ormawa sampah sudah terlihat menumpuk dan tidak kunjung dibawa, bahkan hingga sejak opini ini terbit Kamis, (10/10) sampah masih setia menunggu siapa yang akan membawanya. Sudah delapan hari sampah itu bersemayam dibiarkan menumpuk di sayap barat Auditorium 22 Dzulhijjah
Tentu saja fenomena ini bukan hanya menodai pandangan mata siapa saja yang lewat melewati Auditorium. Acuh tak acuhnya seluruh elemen kampus terkesan menutup mata terhadap unsur estetika tata pertamanan dan isu perawatan, penjagaan lingkungan. Tampaknya kata-kata “annozhofatu minal iman (kebersihan adalah sebagian dari iman)” tidak serius merasuk ke dalam batin.
Ironis, UINSI sebagai lembaga pendidikan islam, seharusnya menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai islam yang mengajarkan tentang kebersihan dan menjaga lingkungan. Kebersihan lingkungan kampus merupakan cerminan dari karakter dan moralitas civitas akademika. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk mengatasi kejadian ini, mengingat hal ini bukanlah yang pertama kali terjadi di UINSI Samarinda, melainkan hal ini sudah berkali-kali, berulang kali menimbulkan keresahan mahasiswa yang tergabung dalam UKM/UKK dan sekretariatnya terletak di sayap barat Auditorium 22 Dzulhijjah.
Kejadian yang sering terjadi ini bukan hanya masalah minimnya kesadaran akan pentingnya estetika, tetapi juga sebuah cerminan dari karakter rata-rata penghuni kampus yang dirasa masih banyak yang kurang peduli dan bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.
Kebersihan lingkungan kampus seharusnya menjadi prioritas bersama, terutama setelah kegiatan besar yang melibatkan banyak orang. Namun, realitanya menunjukkan bahwa kesadaran untuk menjaga kebersihan masih rendah, baik dikalangan mahasiswa maupun civitas akademika kampus.
Tumpukan sampah yang masih terlihat di sayap barat auditorium menjadi bukti bahwa sistem pengelolaan sampah di UINSI masih belum optimal. Selain itu masih sering terjadi kurangnya komunikasi dan koordinasi antara pihak penyelenggara acara kegiatan dengan pihak kebersihan kampus. Sering kali pihak kebersihan terkena imbasnya, padahal tidak 100% letak masalah bersemayam pada petugas kebersihan malah justru hal itu ada pada kesadaran panitia acara. Seyogianya, sebelum kegiatan di auditorium dimulai, sudah ada kesepakatan dan rencana yang matang mengenai pengelolaan sampah, penempatan tempat sampah yang memadai, pengaturan jadwal pengangkutan sampah, serta edukasi kepada panitia kegiatan.
Dengan meningkatkan sistem pengelolaan sampah, meningkatkan komunikasi dan koordinasi, serta membangun budaya bersih dilingkungan kampus. Tidak menutup kemungkinan UINSI dapat menjadi suri tauladan bagi lembaga pendidikan lainnya yang ada di Samarinda dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian kampus hijau tidak lagi menjadi dongeng mahasiswa saat tidur siang, bukan lagi isapan jempol. Kampus yang bersih dan sehat akan menjadi tempat yang nyaman dan kondusif bagi proses belajar mengajar dan pengembangan intelektual.
Penulis: Atma Dahayu