Sempat ‘Mati Suri’, Kini Menwa ‘Bangkit’ Kembali di UINSI

Samarinda, LPM Cakrawala – Sempat vakum beberapa tahun, Resimen Mahasiwa atau MENWA berencana dihidupkan kembali. MENWA nantinya akan menjadi pasukan pengamanan internal kampus yang akan bersinergi dengan UKM/UKK lainnya di UINSI Samarinda.
Resimen Mahasiswa telah ada di UINSI Samarinda sebelum tahun 2000. Namun, vakum setelah adanya pengaruh politik nasional yang mana MENWA dianggap sebagai pasukan militer yang identik dengan kekerasan dalam kampus.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Muhammad Abdzar, mengatakan bahwa dengan adanya MENWA mahasiswa memiliki sarana dalam pengembangan diri. “MENWA dibutuhkan sebagai salah satu sarana bagi mahasiswa dalam mengembangkan diri. Peralihan status IAIN menjadi UIN membuat pihak kampus perlu memberikan mahasiswa banyak wadah untuk berkreasi,” tuturnya. Menurutnya, MENWA dihidupkan kembali dengan alasan untuk membantu melakukan pengamanan internal kampus.
Berkaca pada kasus yang pernah viral pada Tahun 2021, yang mana salah satu mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) meregang nyawa ketika tengah menjalani Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) membuat citra MENWA tercoreng. Sejak saat itu, banyak kampus-kampus di Indonesia yang menentang keras hadirnya MENWA karena kekhawatiran tersendiri. Menanggapi hal itu, Muhammad Abdzar menjawab santai, menurutnya hal itu bisa diantisipasi karena pihak kampus terus melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan kemahasiswaan.
Menurutnya, MENWA bisa berkiprah dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. “Sama halnya seperti UKK KSR yang membantu back up kesehatan apabila ada kegiatan. MENWA pun demikian, tapi dalam bidang pengamanan,” ujarnya. Ia juga beranggapan bahwa MENWA tidak ada bedanya dengan UKM/UKK lainnya hanya karena mendapatkan pelatihan khusus dibawah tanggung jawab Batalyon. “Pada dasarnya semua sama karena bertanggung jawab kepada Rektor. MENWA bukan Tentara, hanya saja dilatih oleh Tentara, MENWA juga bukan perpanjangan tangan Tentara. Hanya saja pelatihan berada dibawah tanggung jawab Batalyon,” jelasnya.
Mengenai kasus tewasnya mahasiswa UNS saat mengikuti Diklatsar MENWA, Muhammad Abdzar menyampaikan bahwa hal itu dapat diantisipasi dengan prosedur berkegiatan yang benar, misalnya dengan memastikan kegiatan tersebut dalam keadaan aman, juga dengan meminta surat perizinan dari orang tua mahasiswa yang ingin berkegiatan. “Kami terus melakukan pemantauan terhadap kegiatan mahasiswa. Bagi yang ingin berkegiatan di luar kami minta surat persetujuan dari orang tua agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tidak lagi menuntut kampus,” tuturnya. Ia juga berpendapat selama masih dalam lingkup kegiatan kemahasiswaan harusnya dilakukan dikampus bukan di luar. “Kegiatan rekrutmen yang sifatnya berkegiatan keluar berencana kami batasi agar tidak seenaknya. Mengapa harus melakukan kegiatan diluar jika bisa di kampus saja,” tutupnya. (Dms)