Mahasiswa Kehilangan Gairah Organisasi di Pesta Demokrasi
Penulis: Akhmad Muhyin Ghozali
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah
Fenomena Pemilu Raya (Pemira) IAIN Samarinda 2021 seakan-akan kurang diminati oleh mahasiswa. Hal Ini dibuktikan dengan pesta demokrasi yang tak banyak mahasiswa mencalonkan diri untuk meneruskan estafet kepemimpinan Ormawa di IAIN. Apakah ada yang salah dalam pengkaderan maupun kesadaran mahasiswa IAIN Samarinda saat ini?, ataukah sebab pandemi yang membuat gairah mahasiswa dalam berorganisasi menurun?
Dilihat dari partisipasi mahasiswa yang mendaftar, baik di tingkat institut maupun fakultas, hanya sedikit yang mencalonkan diri. Hampir pada setiap fakultas hanya ada satu Pasangan Calon (Paslon) di tingkat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), bahkan untuk kepemimpinan Dema-I hanya ada satu Paslon yang mendaftarkan diri. Berikut merupakan data yang terdaftar dalam keikutsertaan Pemira tahun ini:
Dema-Institut : 1 Paslon
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
Dema-FEBI : 2 Paslon
HMJ ES : 2 Paslon
HMJ PS : 2 Paslon
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK)
Dema-FTIK : 1 Paslon
HMPS TBI : 2 Paslon
HMPS MPI : 1 Paslon
HMPS PBA : 1 Paslon
HMPS PGMI : 1 Paslon
HMPS PIAUD : 1 Paslon
HMPS PAI : 1 Paslon
Fakultas Syariah (Fasya)
Dema-Fasya : 2 Paslon
HMJ PPI : 1 Paslon
HMJ IS : 1 Paslon
HMJ Muamalah : 1 Paslon
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD)
Dema-FUAD : 1 Paslon
HMPS KPI : 1 Paslon
HMPS IAT : 1 Paslon
HMPS MD : 1 Paslon
HMPS BKI : 2 Paslon
Mengapa bisa demikian, bahkan pada Paslon Dema-F yakni wakil ketua Dema FTIK dan FUAD sempat tidak lolos verifikasi berkas karena tidak memenuhi salah satu persyaratan, yakni lantaran mereka masih duduk di semester 3. Hal tersebut disebabkan karena ketidaktelitian KPUM-F yang awalnya meloloskan Paslon tersebut. Persyaratan yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) melalui Peraturan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (PKPUM) juga tidak sesuai dengan Peraturan Organisasi (PO) Pemira. Sehingga KPUM segera melakukan perubahan atas peraturan yang tidak sesuai dan membuka kembali pendaftaran serta verifikasi berkas, alhasil para ketua Paslon tersebut lekas mencari wakil pengganti. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah pengganti tersebut benar-benar siap untuk memimpin, sebab mereka tidak ikut pencalonanan sejak awal.
Apakah hal ini merupakan dampak dari sebuah pandemi? rasanya tidak ada kaitannya keorganisasian dengan adanya pandemi, sebab mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change maupun sebagai inovator tidak akan pernah kehabisan akal untuk menciptakan hal-hal baru dalam keadaan apapun. Tentunya perihal pandemi yang berimplikasi pada menurunnya jumlah mahasiswa yang berlomba untuk melanjutkan estafet kepemimpinan tidak menjadi persoalan yang signifikan. Lantas, apa yang menyebabkan kurangnya gairah mahasiswa dalam keikutsertaan mengikuti pesta demokrasi dan menuangkan gagasan-gagasan terbaik mereka di kepemimpinan selanjutnya?
Kemunduran yang terjadi terdapat pada sisi pengkaderan dan kesadaran mahasiswa. Mengapa bisa seperti itu?, sebab sampai saat ini dalam berorganisasi mahasiswa hanya didoktrin akan sebuah kegiatan semata, yang seakan-akan bagaimana anggaran kemahasiswaan itu bisa habis dengan membuat kegiatan yang besar. Namun, kurang ditekankan bagaimana implikasi dari sebuah kegiatan, manfaat serta feedback bagi mahasiswa dan birokrat.
Di sisi lain perihal kesadaran, mahasiswa cenderung bersikap pragmatis. Melihat sebuah organisasi hanya sebagai eksistensi yang menyebabkan mereka kurang begitu tertarik. Apalagi sebagian mahasiswa kurang teredukasi bahwa organisasi merupakan ruang kelas kedua dalam perkuliahan. Sebab, kecakapan maupun pengalaman di kampus banyak didapat di ruang-ruang organisasi yang dialektikanya tak terbatas, hingga bagaimana mereka terdidik untuk mampu mengatasi sebuah permasalahan, yang diharapkan pengalaman tersebut bisa menjadi bekal di masyarakat nanti.
Sebaiknya perihal pesta demokrasi ini harus dikritisi lebih dalam lagi, agar para mahasiswa terbangun untuk menyadarkan dirinya dari ruang-ruang kenyamanan yang tidak menghasilkan pengalaman maupun pelajaran di dalam kampus. Begitu juga para pemimpin organisasi mampu melakukan sebuah terobosan agar arah organisasi ini menjadi daya tarik bagi banyak mahasiswa. Sehingga, mereka tidak lagi bersikap apatis perihal pentingnya organisasi internal kampus.